Skip to main content

Posts

Showing posts with the label opini publik

Dua Mata Pisau RKUHP dan RUU KPK

RKUHP dan RUU KPK. Dua mata pisau yang berbahaya bagi pemerintah dan rakyat. Bagaimana tidak, mereka berdua muncul tiba-tiba dan sekejap mata langsung bisa membuat gaduh jagad Indonesia. Layaknya sebuah candi yang dibangun dalam semalam, rancangan undang-undang tersebut ramai diperbincangkan. Karena diduga dan usut punya usut kedua undang-undang tersebut tidak mencerminkan keadilan dan semangat pemberantasan korupsi yang sudah membudaya di kalangan elite politik kita.
Sebenarnya masih ada lagi rancangan undang-undang yang bermasalah. Seperti, RUU Pertanahan, RUU Pertanian, dan rancangan undang-undang kilat lainnya. Sebagai bangsa berdaulat, tentu penegakan keadilan pasti yang nomor satu. Indonesia adalah salah satu negara yang adil dalam memperlakukan penjahat. Maling ayam. maling sendal, maling buah, mengambil kayu digebuk sampai hancur dan di penjara 5 tahun (berdasarkan Pasal 362 KUHP). Itu pun karena desakan ekonomi yang memaksa. Sedangkan, maling uang rakyat atau korupsi hanya d…

Jadi Menteri? Siap Presiden!

Dunia perpolitikan negeri ini selalu menampilkan hal-hal yang mengejutkan (bahasa gaulnya speechless). Teman bisa menjadi lawan. Dan lawan bisa menjadi teman. Orang awam tidak bisa menebak dengan nada-nada gamblang seperti,
"itu loh bakal jadi rival politik seumur hidup.." "ambisius sekali dia sampai menebar berita hoax dan ujaran kebencian pula.." "mereka gak bakal rekonsiliasi deh..." "hidup oposisi..!!" "hidup demokrasi//!" "hidup kursi menteri.."
ya, hanya Allah dan mereka yang berdasi lah yang tahu. Skenario politik yang disusupi isu-isu agama, paham komunis, dan paham-paham ekstrim lainnya yang mampu membuat rekayasa panggung perpolitikan menjadi menarik rekan-rekan sutradara perfilman. Karena tepat sekali apabila diangkat di layar lebar (red:bioskop). Tentu dengan judul "Tak Rekonsiliasi, Tak dapat Kursi". Hahaha, pasti bisa dipastikan akan membludak penontonnya. Sebab, yang duduk di kursi-kursi bioskop deng…

Media dan Etika | Terkait Meninggalnya Ani Yudhoyono

Sebelum membaca ini sebaiknya membaca motivasi perdamaian, agar asupan energi otak bertambah. Pada dasarnya media terbagi menjadi 2 (dua) kategori. Yang pertama, media sebagai sumber informasi. Dan yang kedua media sebagai wadah hiburan. Kedua-duanya jangan disamaratakan loh ya, karena sudah berbeda konteksnya. Namun, lucunya sekarang ini media punya kemampuan kamuflase layaknya bunglon. Tidak bisa membedakan waktu yang tepat untuk memberikan informasi dan hiburan, dua-duanya digabung bak gado-gado. Yang bingung tentu pemirsah di rumah.
Pernyataan ini mendasar karena sebagai rakyat sudah jengah dengan banyaknya pemberitaan yang itu-itu saja dan yang terbaru sudah tidak ada etikanya. Tidak perlu disebutkan nama media mana yang demikian tentu kalian sudah tahu, yang pastinya media pemberitaan. Keresahan ini muncul karena semakin hari apabila diperhatikan dengan saksama dan dalam tempo yang lama media pemberitaan sudah tidak terkendali. Ya memang Undang-Undang Indonesia memberikan kebeb…

Kasus Ratna Sarumpaet, JPU Menuntut 6 Tahun Penjara | PerspektifRakyat

Lucunya negeri ini bertambah dengan adanya kasus-kasus hoax (red: hoak). Yang lagi viral tahun ini adalah kasus penganiayaan tokoh pejuang HAM, pejuang perempuan, wonder womannya Indonesia (kata pembelanya loh ya). Ratna Sarumpaet. Seketika menyita banyak menyita awak media perihal muka lebam yang di uplodnya di jejaring sosial twitter dan sudah banyak dibagikan oleh banyak orang. Tangis dan hujatan (untuk si penganiaya) datang dari kerabat-kerabat dekatnya dari kelas politik dan aktivis. Apalagi saat berita itu booming, timingnya pas dengan pemilu 2019. Ya kesempatan dalam kesempitan untuk kerabat-kerabat dan rekan-rekan beliau untuk menggoreng dan mendramatisir kejadian.
Team oposisi. Team pertama yang merespon kasus Ratna Sarumpaet. Dengan emosi membara dan tanpa check and recheck terlebih dahulu mereka mengutuk perbuatan tersebut. terus bagaimana dengan kubu petahana? Adem ayem dan tetap stay cool saja. Saat diwawancara mereka menjawab “yaa serahkan saja kasusnya pada Kepolisian”…

Motivasi Perdamaian Indonesia Untuk People Power 22 Mei 2019

Setelah pemilu 2019 usai banyak hal yang terjadi di Indonesia. Salah satunya aksi people power yang pernah terjadi tahun ’98 terulang kembali. Cuman bedanya massa tidak menggeruduk kantor DPR. Kemudian perbedaan lainnya adalah massa rata-rata berkopyah, bersorban, dan memakai baju koko/gamis. Sudahlah, lupakan politik identitas yang mengatas namakan SARA (Suku Agama Ras dan Antar golongan). Pengumuman pemenang pesta demokrasi (Pilpres dan Pileg) sudah berlalu. Sekarang tinggal menata hidup untuk kehidupan yang akan datang. Tidak terimanya hasil rekapitulasi KPU biarlah elite-elite politik yang bersengketa, jangan kita yang terus-menerus disengketakan. Cebong dan kampret sudah berakhir, sekarang semua sudah lebur jadi NKRI. Demo yang awal mula dengan jargon damai seketika berubah jadi rusuh merupakan bentuk rekayasa politik para elite-elite politik mengadu domba damainya demokrasi kerakyatan yang ada di Indonesia dengan membawa isu-isu SARA mereka memecah belah bangsa untuk meraih nafsu…

Quotes Renungan dan Sindiran Untuk Negeri, Part 1

"Seakan meludahi di atas tubuh yang resah dalam mengharap dan menuntut keadilan, dengan congkak kau bejalan mendongak ke atas dagumu, pandanganmu tanpa mempedulikan yang ada di bawahmu. Bagaimana bisa kau berjalan mengabaikan atasanmu (rakyat)? Sumpahmu hanya sebuah formalitas yang tidak sesuai dengan realitas. Masih ingatkah pertama kali menarik hati kami (rakyat)? kau rela menjadi apa saja, kau rela mengorbankan semuanya. Tapi apa kini? kau korbankan kami.

"Kacang lupa kulitnya Pribahasa lama di atas tidak akan lekang oleh waktu. Nampaknya tepat menggambarkan kondisi wakil rakyat yang seharusnya kembali untuk rakyat sebagai bentuk pengabdian dan pelaksanaan sumpah jabatan. Wakil rakyat dari rakyat, dipilih oleh rakyat karena percaya mampu mewakilkan suara-suara rakyat yang dibungkam dan diambil hak-haknya sebagai rakyat. Bukan malah sebaliknya. Membungkam rakyat, mematikan rakyat, memperbudak rakyat.

"Untuk membangun infrastruktur, jangan korbankan kami (rakyat) …

Anekdot : Motivasi Pembentukan Komnas Perlindungan Hewan, pemerkosaan hewan

Indonesia perlu Komnas Perlindungan Hewan. Ketidakadilan terhadap hak asasi nampaknya tidak hanya terjadi di dunia permanusiaan tetapi sekarang sudah meranjah ke dunia perhewanan. Bukan hewan yang mengambil hak-nya si manusia, tetapi si manusia yang mengambil hak-nya si hewan. Aneh dan miris memang apabila kita di hadapkan dengan realita tersebut. Tuhan sudah menganugerahkan akal kepada manusia sebagai pembeda di antara makhluk-makhluk lainnya, agar digunakan sebagaimana mestinya. Pertanyaannya sekarang adalah apakah oknum manusia yang memperkosa dan mengambil hak makhluk lain yang notaben tidak mempunyai akal (hewan) tersebut dapat dikatakan ‘ada’ otak dan seperangkat akalnya di dalam kepalanya? Silahkan jawab di kolom komentar.
Baru-baru ini ada berita pemerkosaan hewan di daerah Panggung Rejo, Sukoharjo, Pringsewu yang membuat warga net tecengang karena ulah oknum manusia yang dengan sangat tidak bertanggung jawab memperkosa 1 ekor kambing, dan 1 ekor sapi. Mungkin sudah saking ‘kebe…

Cara Mengatasi Mafia Bola, PSSI Bisa Apa?

Mafia bola. Pagi yang segar dan fresh (otaknya), terdapat rapat kecil-kecilan di kantor abal-abal namanya. Kebetulan sedang membahas tentang mafia bola yang sedang viral itu. A : “Bagaimana rekan-rekan, ada solusi apa untuk mengatasi para mafia bola ini? Biar nanti saran terbaik bisa diajukan ke kepolisian.” B : “Nah yak aku ada ide..” A : “Ya sampaikan saja. Idenya, barangkali bisa menangkap seluruh mafia bola di negeri ini.” B : “Begini ide saya. Mafia dengan bola kan berbeda. Kenapa gak kita pisah saja mereka berdua?” A : “Maksudnya?” B : “Mafia kan orangnya. Kalau bola kan olahraga yang dikuasainya.” A : “Terus, bagaimana caranya?” B : “Ya dipisah. Kita bubarkan olahraga sepak bolanya. Otomatis mafia yang hidup di dalamnya bakalan ngacir mencari penghidupan lain.” A : “Out the box kali otak kau. Gak sampai otakku memikirkan itu.” B : “Sekadar mengingatkan. Sepak bola bisa hidup sendiri tanpa PSS*. Toh banyak tuh pertandingan sepak bola di desa-desa. Tournament tingkat RT/RW saja sudah beras…

Polemik BPJS Kesehatan dan kartu sakti program pemerintah

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan merupakan suatu badan asuransi yang digalakkan pemerintah untuk menampung semua pasien terutama untuk pasien yang berekonomi kelas menengah ke bawah yang menggunakan “tiket” Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang tentunya iuran kepesertaannya dibayar oleh pemerintah yang dialokasikan dalam APBN. Ya, dualism kartu jaminan kesehatan untuk rakyat miskin ini menuai banyak kritikan, karena banyak terjadi diskriminasi antara dia yang bayar tunai dengan dia yang dibayar pemerintah. Sejak awal beroperasinya BPJS pada 1 Januari 2014 sampai sekarang, pasien yang berekonomi menengah ke bawah (tidak mampu secara finansial) ‘kurang’ diprioritaskan perawatannya atau bisa dikatakan banyak terjadi perlakuan yang diskriminatif terhadap golongan berfinansial rendah.
Banyaknya pasien kelas finansial rendah (miskin) yang terlantar di rumah sakit-rumah sakit menambah catatan buruk program asuransi dari pemerintahan yang berbau ‘gratisan’ tersebut. Keluhan demi …

Asal-usul UU ITE versi Anekdot Negeri

Undang-Undang ITE. Pasti di benak rekan-rekan “pasal karet”. Memang tidak bisa dipungkiri, di dalam UU ITE terdapat pasal yang multitafsir, yang mempunyai kemungkinan salah tafsir dan tentunya apabila hal itu terjadi, keadilan hanya sekadar impian (bagi yang lengah dan yang tidak punya kuasa).
Sudah bukan rahasia lagi kalau hukum di negeri sulap ini bisa menyulap hukum menjadi bahan makanan elite politik yang memiliki watak-watak dictator sepeninggalan orba (red: orde baru). Menghalalkan segala cara demi menutupi kepentingan pribadi, dengan embel-embel “merakyat, dan berkeadilan”.
Husnuzon. Sikap yang tepat menyikapi UU ITE yang dibuat oleh para wakil rakyat yang selalu merakyat tentunya. Tujuan wakil rakyat sudah bagus membuat UU ITE tersebut, agar tidak ada lagi netizen-netizen yang “barbar” di medsos-medsos. Tetapi, sebaiknya para wakil rakyat juga memperhatikan UU ITE tersebut, karena itu tadi banyaknya pasal karet yang membuat image “dictator” di kalangan rakyat negeri tercinta ini…

Ujian Akhir Sekolah (UAS) antara hidup dan mati

Kring…kring..kriing bel sekolah berbunyi menandakan siswa dan siswi untuk masuk kelas untuk Ujian Akhir Sekolah (UAS). Desas-desusnya ujian kali ini ketat se-level penjara federal. Karena siswa dan siswinya tidak boleh melakukan trik lama, yaitu mencontek atau sitilahnya ilmu tetangga. Sangking ketatnya, kemungkinan lolos mencontek hanya 99% saja. Mengapa tidak 100%? Karena yang Esa (satu) itu Tuhan. Hal inilah yang membuat para murid-murid ketakutan, bahkan sampai ada yang keringat dingin. “Pak, aturan UASnya memang begini kah dari pak Menteri? Tanya salah satu murid pada gurunya. “Yaa, begini nak. Lha emangnya bagaimana?” Jawab Guru. “Tahun kemarin kan kaka tingkat kami gak kayak gini loh pak” siswa tersebut nampak cemberut dan simpul di bibirnya simpul mati. “Yaa, mau bagaimana lagi nak. Bapak dan Ibu gurumu ndak bisa berbuat apa-apa, hanya menjalankan amanat dari atasan” Guru tersebut menerangkan alasan UAS mereka berbeda. “ehem..ehem..guk..gruk (suara daham seorang pengawas UAS memecah…