Skip to main content

Jadi Menteri? Siap Presiden!

sumber: Pixels

Dunia perpolitikan negeri ini selalu menampilkan hal-hal yang mengejutkan (bahasa gaulnya speechless). Teman bisa menjadi lawan. Dan lawan bisa menjadi teman. Orang awam tidak bisa menebak dengan nada-nada gamblang seperti,

"itu loh bakal jadi rival politik seumur hidup.."
"ambisius sekali dia sampai menebar berita hoax dan ujaran kebencian pula.."
"mereka gak bakal rekonsiliasi deh..."
"hidup oposisi..!!"
"hidup demokrasi//!"
"hidup kursi menteri.."

ya, hanya Allah dan mereka yang berdasi lah yang tahu. Skenario politik yang disusupi isu-isu agama, paham komunis, dan paham-paham ekstrim lainnya yang mampu membuat rekayasa panggung perpolitikan menjadi menarik rekan-rekan sutradara perfilman. Karena tepat sekali apabila diangkat di layar lebar (red:bioskop). Tentu dengan judul "Tak Rekonsiliasi, Tak dapat Kursi". Hahaha, pasti bisa dipastikan akan membludak penontonnya. Sebab, yang duduk di kursi-kursi bioskop dengan ditemani popcorn adalah rakyat-rakyat dari segala lapisan. Dari yang pengusaha, wiraswasta, wirausaha, dosen, guru, mahasiswa, siswa, dan pengangguran pun ikut menyaksikan tiap-tiap adegan yang ditampilkan oleh wakil-wakilnya tersebut.

Banyak yang merasa kecewa, dan banyak yang merasa dikhianati. Ah, jangan terlalu amatiran. Mereka yang jijik, dan nyinyir, bahkan benci dengan kata rekonsiliasi. Bahawa pasarnya, berdamai. Sedangkan bahasa politiknya adalah berbagi tugas mengurus negara. Bukan shift-shiftan menjadi kepala negara.

Sedikit yang sadar dan sedikit pula yang tahu drama-drama poliTIKUS dalam mengambil hati rakyat. Karena negeri ini rakyat-rakyatnya sangat polos, budiman, lemah lembut, ramah tamah, suka menolong, dan rajin menabung. Maka dari itu mudah sekali terombang-ambing gelombang. Sampai-sampai mabok lautan.

"Salah sendiri ikut-ikutan, gak tahu substansinya..."
"Yang kamu dapat apa? Kecewa? Haha amatiran, lu..."

Para buzzer sangat suka dengan hal-hal yang berbau kekecewaan dan kemarahan rakyat. Datang diantar, pulang ya sendiri. Mungkin begitulah kalimat yang cocok menggambarkan kondisi rakyat. Dilembut-lembut, dielus-elus, kalau perlunya saja. Seperti kata Wira Nagara,

"Kau datang seperlunya, dan kau pergi secepatnya.."

Rakyat masih ada yang tidak bisa move on dengan istilah cebong dan kampret. Rindu suasana permusuhan dan per-hoax-an. Bagaimana tidak rindu setiap kali keluar isu-isu tentang mereka pasti terjadi pertumpahan nyinyir di medsos. Muncul pertanyaan.

"Kenapa mereka gak langsung baku hantam saja di dunia nyata?.."
"Aduh kenapa sih harus di medsos gak seru..." 

Bukan seperti itu sahabatku yang polos dan baik hati. Medsos seperti Ig, Fb, Wa, dan Twitter adalah dunianya. Mereka bukan manusia seperti kalian. Yang setiap hari mempunyai pekerjaan untuk menghidupi keluarga, dan bagi yang bersekolah mengejar masa depannya. Sedangkan mereka? Tidak demikian. Sibuk mencari aib, sibuk membuat rusuh, sibuk menjelek-jelekan orang. Sehingga apabila disamakan dengan kehidupan manusia pada umumnya tentu berbeda.

"Duniamu adalah duniamu, duniaku adalah duniaku"

Dunia yang penuh angan-angan, dunia yang penuh kebencian, dan dunia yang penuh berita bohongan adalah tempat idaman bagi mereka. Jadi tidak usah usah iri hati tidak dapat jatah menteri, toh makan ubi dan kopi masih nyaman dikala pagi. Udud dulu slur..

Comments

Popular posts from this blog

Motivasi Hidup: Cebong vs Kampret

Pada suatu Rimba Raya hiduplah dua ekor makhluk hidup yang berbeda tempat. Dua makhluk itu kecebong dan kampret. Kehidupan mereka berdua berbeda alam. Kecebong hidup di air. Sedangkan kampret hidup di daratan. Mereka berdua bertemu saat kampret minum air di sungai yang kebetulan si cebong sedang asyik berenang dengan kawan-kawannya. Saling tertegun di antara mereka. “Hai, siapa kau?” Tanya kampret pada kumpulan cebong. “Kau yang siapa, seenaknya minum di sungai ini” Jawaban ketus dari salah satu cebong. “Seenaknya katamu?!Heh, Aku sudah sering minum dan istirahat di sungai ini. Toh ini kan untuk dinikmati bersama” Jawab kampret dengan nada esmosi. “Tak pernah lihat wajah jelek sepertimu sebelumnya, hahaha” Cletukan salah satu cebong membuat riuh yang mengakibatkan gelap tawa rombongan mereka. Sontak kampret menjawab perkataan cebong di tengah-tengah riuh tawa rombongannya. “Apa salahnya? Apa salahnya aku haus dan minum? Perkataan kampret membungkam riuh mereka. Semenjak kejadian itu, cebong d…

Ujian Akhir Sekolah (UAS) antara hidup dan mati

Kring…kring..kriing bel sekolah berbunyi menandakan siswa dan siswi untuk masuk kelas untuk Ujian Akhir Sekolah (UAS). Desas-desusnya ujian kali ini ketat se-level penjara federal. Karena siswa dan siswinya tidak boleh melakukan trik lama, yaitu mencontek atau sitilahnya ilmu tetangga. Sangking ketatnya, kemungkinan lolos mencontek hanya 99% saja. Mengapa tidak 100%? Karena yang Esa (satu) itu Tuhan. Hal inilah yang membuat para murid-murid ketakutan, bahkan sampai ada yang keringat dingin. “Pak, aturan UASnya memang begini kah dari pak Menteri? Tanya salah satu murid pada gurunya. “Yaa, begini nak. Lha emangnya bagaimana?” Jawab Guru. “Tahun kemarin kan kaka tingkat kami gak kayak gini loh pak” siswa tersebut nampak cemberut dan simpul di bibirnya simpul mati. “Yaa, mau bagaimana lagi nak. Bapak dan Ibu gurumu ndak bisa berbuat apa-apa, hanya menjalankan amanat dari atasan” Guru tersebut menerangkan alasan UAS mereka berbeda. “ehem..ehem..guk..gruk (suara daham seorang pengawas UAS memecah…

Sarkasme : RUU Permusikan

Pada suatu masa, ada seorang musisi yang mencari rejeki dari panggung yang satu ke panggung lainnya. Musisi tersebut sudah terkenal di seantero jagad pernikahan dan acara-acara undangan yang lainnya. Bukan karena wajahnya yang tampan dan tubuhnya tinggi semampai, tetapi karena berkat suaranya yang merdu lah dia dapat manggung dan menghidupi keluarga besarnya. Pada suatu ketika dia berkumpul dengan keluarga melihat siaran berita di televisi apa yang dilihatnya meubah segalanya. Sontak saja dia dan keluarga besarnya bingung dengan berita yang tayang tersebut. “Pak, bagaimana? Apa harus Papah berganti profesi saja jadi petani atau pengusaha saja?” Tanya Istri musisi tersebut. “Mungkin Negara kita ini mau berevolusi. Sampai harus membuat RUU Permusikan. Harus ini lah, harus itulah. Yang membuat jengah itu ya masa pelaku musik harus melalui uji kesetaraan lah, uji kompetensi lah. Masa Papah harus dites segala.” Jawab musisi tersebut. “Ya kalau Bapak mau sih ikut-ikut audisi yang kayak di acara…