Skip to main content

Hakikat Teks Anekdot

sumber: pixels

Apa yang ada dipikiran kalian mengenai kalimat kritik? Tentu yang ada dipikiran kalian adalah kalimat yang tegas, keras, terus terang, dan memiliki niat menjatuhkan. Dalam hal ini tidak terkecuali saat presentasi di kelas-kelas, melainkan kritik sering sekali datang dan muncul di berbagai tingkatan masyarakat segala tingkatan. Misalnya, di lingkungan keluarga saat nilai rekan-rekan anjlok, pada saat itulah bapak atau ibu selaku orangtua kalian pasti akan memberi kritik,

"Sudah dibilangin kan, jangan main hp terus. Nilaimu anjlokkan"
"Lain kali lebih teliti dalam menjawab ujiannya"
"Bagaimana mau dapat rangking kalau keseharianmu hanya main game terus. Otakmu jadi kosongkan"

Kritik bisa dalam bentuk teks anekdot. Nah pasti tidak ada yang tahu atau mungkin hanya sekadar dengar saja mengenai teks yang keren ini. Teks anekdot adalah cerita singkat yang di dalamnya mengandung unsur lucu dan mempunyai maksud untuk melakukan kritikan. Teks anekdot biasanya bertopik tentang layanan publik, politik, lingkungan, dan sosial. Jadi, dapat disimpulkan secara padat dan terperinci bahwa teks anekdot merupakan suatu metode kritik yang elegan tanpa merendahkan atau menyakiti secara kontak langsung. Teks anekdot harus dibuat sesuai dengan kebenaran yang nyata. Kritik yang anti mainstream adalah kritik menggunakan teks anekdot. Karena metode ini dinilai sangat efektif untuk mengkritik dari skala kecil sampai skala besar. Maksud skala adalah ukuran kritik dari tingkat masyarakat, sampai ke tingkat pemerintahan.

Namun, kritik yang dilakukan ini merupakan spontan dari lubuk hati yang paling dalam guna mewujudkan perbaikan secara menyeluruh, terstruktur, masif dan sistematis. Dan tidak ada unsur kepentingan pihak tertentu. Gerakan kritik ini murni ungkapan dari rakyat yang ditujukan kepada penguasa atau lembaga yang memiliki wewenang namun mereka tidak menjalankannya sesuai dengan ketentuan atau janji mereka pada saat kampanye.

Agar tidak terjadi pembodohan publik secara terus menerus, perlu pembelajaran membuat teks anekdot ini agar otak dapat menggali kedalaman hati. Dan tentu perlu dituangkan dalam satu wadah dalam bentuk teks tertulis yang elegan dalam menyampaikan aspirasi. Karena kekuatan demokrasi adalah selama kita tidak tunduk dan patuh kepada penguasa-penguasa yang menyimpang dan mengambil alih seluruh hak-hak rakyat secara keseluruhan. Baik dari segi politik, sosial, ekonomi, dan budaya harus saling bersinergi di dalam kehidupan masyarakat. Agar tercipta masyarakat yang kuat dan melek dalam semua hal yang menyangkut hak-haknya.

Kritik di sini bersifat membangun. Tergantung perspektif masing-masing saat menelaah teksnya. Entah dalam bentuk kritik secara langsung. Atau melalui sindiran halus teks anekdot. Tujuannya hanya menegakkan dan memberi pemahaman kepada penguasa bahwa mereka salah jalan atau pun mengambil hak-hak rakyat secara membabi buta. Yang kaya semakin kaya, dan yang miskin akan semakin miskin. Hal inilah yang perlu kiranya menjadi perhatian. 

Comments

Popular posts from this blog

Motivasi Hidup: Cebong vs Kampret

Pada suatu Rimba Raya hiduplah dua ekor makhluk hidup yang berbeda tempat. Dua makhluk itu kecebong dan kampret. Kehidupan mereka berdua berbeda alam. Kecebong hidup di air. Sedangkan kampret hidup di daratan. Mereka berdua bertemu saat kampret minum air di sungai yang kebetulan si cebong sedang asyik berenang dengan kawan-kawannya. Saling tertegun di antara mereka. “Hai, siapa kau?” Tanya kampret pada kumpulan cebong. “Kau yang siapa, seenaknya minum di sungai ini” Jawaban ketus dari salah satu cebong. “Seenaknya katamu?!Heh, Aku sudah sering minum dan istirahat di sungai ini. Toh ini kan untuk dinikmati bersama” Jawab kampret dengan nada esmosi. “Tak pernah lihat wajah jelek sepertimu sebelumnya, hahaha” Cletukan salah satu cebong membuat riuh yang mengakibatkan gelap tawa rombongan mereka. Sontak kampret menjawab perkataan cebong di tengah-tengah riuh tawa rombongannya. “Apa salahnya? Apa salahnya aku haus dan minum? Perkataan kampret membungkam riuh mereka. Semenjak kejadian itu, cebong d…

Ujian Akhir Sekolah (UAS) antara hidup dan mati

Kring…kring..kriing bel sekolah berbunyi menandakan siswa dan siswi untuk masuk kelas untuk Ujian Akhir Sekolah (UAS). Desas-desusnya ujian kali ini ketat se-level penjara federal. Karena siswa dan siswinya tidak boleh melakukan trik lama, yaitu mencontek atau sitilahnya ilmu tetangga. Sangking ketatnya, kemungkinan lolos mencontek hanya 99% saja. Mengapa tidak 100%? Karena yang Esa (satu) itu Tuhan. Hal inilah yang membuat para murid-murid ketakutan, bahkan sampai ada yang keringat dingin. “Pak, aturan UASnya memang begini kah dari pak Menteri? Tanya salah satu murid pada gurunya. “Yaa, begini nak. Lha emangnya bagaimana?” Jawab Guru. “Tahun kemarin kan kaka tingkat kami gak kayak gini loh pak” siswa tersebut nampak cemberut dan simpul di bibirnya simpul mati. “Yaa, mau bagaimana lagi nak. Bapak dan Ibu gurumu ndak bisa berbuat apa-apa, hanya menjalankan amanat dari atasan” Guru tersebut menerangkan alasan UAS mereka berbeda. “ehem..ehem..guk..gruk (suara daham seorang pengawas UAS memecah…

Sarkasme : RUU Permusikan

Pada suatu masa, ada seorang musisi yang mencari rejeki dari panggung yang satu ke panggung lainnya. Musisi tersebut sudah terkenal di seantero jagad pernikahan dan acara-acara undangan yang lainnya. Bukan karena wajahnya yang tampan dan tubuhnya tinggi semampai, tetapi karena berkat suaranya yang merdu lah dia dapat manggung dan menghidupi keluarga besarnya. Pada suatu ketika dia berkumpul dengan keluarga melihat siaran berita di televisi apa yang dilihatnya meubah segalanya. Sontak saja dia dan keluarga besarnya bingung dengan berita yang tayang tersebut. “Pak, bagaimana? Apa harus Papah berganti profesi saja jadi petani atau pengusaha saja?” Tanya Istri musisi tersebut. “Mungkin Negara kita ini mau berevolusi. Sampai harus membuat RUU Permusikan. Harus ini lah, harus itulah. Yang membuat jengah itu ya masa pelaku musik harus melalui uji kesetaraan lah, uji kompetensi lah. Masa Papah harus dites segala.” Jawab musisi tersebut. “Ya kalau Bapak mau sih ikut-ikut audisi yang kayak di acara…