Skip to main content

Dua Mata Pisau RKUHP dan RUU KPK

sumber: pixels

RKUHP dan RUU KPK. Dua mata pisau yang berbahaya bagi pemerintah dan rakyat. Bagaimana tidak, mereka berdua muncul tiba-tiba dan sekejap mata langsung bisa membuat gaduh jagad Indonesia. Layaknya sebuah candi yang dibangun dalam semalam, rancangan undang-undang tersebut ramai diperbincangkan. Karena diduga dan usut punya usut kedua undang-undang tersebut tidak mencerminkan keadilan dan semangat pemberantasan korupsi yang sudah membudaya di kalangan elite politik kita.

Sebenarnya masih ada lagi rancangan undang-undang yang bermasalah. Seperti, RUU Pertanahan, RUU Pertanian, dan rancangan undang-undang kilat lainnya. Sebagai bangsa berdaulat, tentu penegakan keadilan pasti yang nomor satu. Indonesia adalah salah satu negara yang adil dalam memperlakukan penjahat. Maling ayam. maling sendal, maling buah, mengambil kayu digebuk sampai hancur dan di penjara 5 tahun (berdasarkan Pasal 362 KUHP). Itu pun karena desakan ekonomi yang memaksa. Sedangkan, maling uang rakyat atau korupsi hanya dipenjara 2-5 tahun penjara. Dan itu pun masih ada potongan masa tahanan. Perihal denda ya 200 juta (Pasal 2 UU Tipikor), nah yang menarik di RKUHP dendanya dapat diskon. Dari yang semula 200 juta menjadi 10 juta. Adilkan?

Dalam tulisan ini tidak ada pembenaran dalam hal mencuri. Semua tindakan yang merugikan orang lain sangat tidak mencerminkan manusia yang berakhlak dan berhati nurani. Maling ayam dengan korupsi sama substansinya yaitu merugikan orang. Namun, yang membedakan keduanya adalah kerugian materinya.Ya, selain materi tata cara malingnya dan prosedur penangkapannya yang berbeda. Kalau maling ayam cara mencurinya melihat situasi dan kondisi. Karena kalau tertangkap warga bisa kena amuk masa Dan kalau sampai ketangkap polisi sudah seperti manusia yang penuh dosa dan menjijikan (red: digelendeng). Sedangkan koruptor? Mereka bisa mencuri kapan pun dan di mana pun. Toh gak ada yang tahu dengan Tuhan pun seolah-olah mereka bisa sembunyi. Baca di blog ini juga negara paling berani sampai-sampai dengan Tuhan pun mereka berani. Bukan sebuah rahasia lagi, apabila para koruptor tertangkap dan mengenakan rompi orange tahanan masih sempat-sempatnya melambaikan tangan dan tersenyum bahkan ada yang tertawa. Seolah-olah perbuatannya dapat ditoleransi oleh masyarakat, oleh seluruh rakyat Indonesia. Andaikan sebelum masuk sel dihakimi masa terlebih dahulu, tentu sama dan balance dengan pelaku maling ayam tersebut. Karena uang yang mereka korupsi adalah uang rakyat Indonesia, sudah sepatutnya rakyat juga mengambil bagian dalam hal menuntut hak-haknya.

Hanya melalui KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) lah rakyat berharap uangnya benar-benar dikelola negara, bukan dikelola keluarga koruptor. Namun, sepak terjangnya tidak lama lagi akan redup disebabkan RUU KPK yang mengkebiri lembaga ujung tombak rakyat tersebut. Bagaimana tidak, isi dari rancangan undang-undang kilat tersebut adalah adanya dewan pengawas yang superpower. Ungkapan tersebut tidak berlebihan mengingat pada faktanya dewan pengawas mengawasi kinerja KPK sampai ketahap-tahap penyelidikan. Karena untuk menyadap KPK harus meminta izin kepada dewan tersebut. Kemudian muncul pertanyaan. Lembaga pengawas tersebut diawasi oleh siapa dalam bekerja?

Sebegitu bahayakah KPK di mata elite politik sampai perlu diawasi? Atau sebegitu berharganya kah elite politik yang melakukan korupsi?

"Masalah moral, masalah akhlak, biar kami, cari sendiri..."

Begitulah setidaknya penggalan lirik lagu dari Iwan Fals pada saat masih kritis dalam mengkritisi pemerintah orba. Sekarang, urusan ranjang (Pasal 480 ayat 1 RKUHP) sampai pergaulan (Pasal 432  RKUHP) semua diatur oleh pemerintah. Hewan pun ikut diatur (Pasal 279 ayat 2 RKUHP). Sampai orang-orang yang memiliki kekuatan supranatural pun ikut diperhatikan (Pasal 252 RKUHP). Dan masih banyak lagi bentuk-bentuk perhatian pemerintah kepada rakyatnya. Tingkat berfaedahnya sampai diakui oleh semua makhluk yang ada dan hidup di bumi Indonesia ini. Terimakasih DPR dan pakar-pakar hukum lainnya yang sudah repot-repot membuat undang-undang produk bangsa (red: produk anak bangsa yang nyatanya didemo oleh mahasiswa).

Comments

Popular posts from this blog

Motivasi Hidup: Cebong vs Kampret

Pada suatu Rimba Raya hiduplah dua ekor makhluk hidup yang berbeda tempat. Dua makhluk itu kecebong dan kampret. Kehidupan mereka berdua berbeda alam. Kecebong hidup di air. Sedangkan kampret hidup di daratan. Mereka berdua bertemu saat kampret minum air di sungai yang kebetulan si cebong sedang asyik berenang dengan kawan-kawannya. Saling tertegun di antara mereka. “Hai, siapa kau?” Tanya kampret pada kumpulan cebong. “Kau yang siapa, seenaknya minum di sungai ini” Jawaban ketus dari salah satu cebong. “Seenaknya katamu?!Heh, Aku sudah sering minum dan istirahat di sungai ini. Toh ini kan untuk dinikmati bersama” Jawab kampret dengan nada esmosi. “Tak pernah lihat wajah jelek sepertimu sebelumnya, hahaha” Cletukan salah satu cebong membuat riuh yang mengakibatkan gelap tawa rombongan mereka. Sontak kampret menjawab perkataan cebong di tengah-tengah riuh tawa rombongannya. “Apa salahnya? Apa salahnya aku haus dan minum? Perkataan kampret membungkam riuh mereka. Semenjak kejadian itu, cebong d…

Ujian Akhir Sekolah (UAS) antara hidup dan mati

Kring…kring..kriing bel sekolah berbunyi menandakan siswa dan siswi untuk masuk kelas untuk Ujian Akhir Sekolah (UAS). Desas-desusnya ujian kali ini ketat se-level penjara federal. Karena siswa dan siswinya tidak boleh melakukan trik lama, yaitu mencontek atau sitilahnya ilmu tetangga. Sangking ketatnya, kemungkinan lolos mencontek hanya 99% saja. Mengapa tidak 100%? Karena yang Esa (satu) itu Tuhan. Hal inilah yang membuat para murid-murid ketakutan, bahkan sampai ada yang keringat dingin. “Pak, aturan UASnya memang begini kah dari pak Menteri? Tanya salah satu murid pada gurunya. “Yaa, begini nak. Lha emangnya bagaimana?” Jawab Guru. “Tahun kemarin kan kaka tingkat kami gak kayak gini loh pak” siswa tersebut nampak cemberut dan simpul di bibirnya simpul mati. “Yaa, mau bagaimana lagi nak. Bapak dan Ibu gurumu ndak bisa berbuat apa-apa, hanya menjalankan amanat dari atasan” Guru tersebut menerangkan alasan UAS mereka berbeda. “ehem..ehem..guk..gruk (suara daham seorang pengawas UAS memecah…

Sarkasme : RUU Permusikan

Pada suatu masa, ada seorang musisi yang mencari rejeki dari panggung yang satu ke panggung lainnya. Musisi tersebut sudah terkenal di seantero jagad pernikahan dan acara-acara undangan yang lainnya. Bukan karena wajahnya yang tampan dan tubuhnya tinggi semampai, tetapi karena berkat suaranya yang merdu lah dia dapat manggung dan menghidupi keluarga besarnya. Pada suatu ketika dia berkumpul dengan keluarga melihat siaran berita di televisi apa yang dilihatnya meubah segalanya. Sontak saja dia dan keluarga besarnya bingung dengan berita yang tayang tersebut. “Pak, bagaimana? Apa harus Papah berganti profesi saja jadi petani atau pengusaha saja?” Tanya Istri musisi tersebut. “Mungkin Negara kita ini mau berevolusi. Sampai harus membuat RUU Permusikan. Harus ini lah, harus itulah. Yang membuat jengah itu ya masa pelaku musik harus melalui uji kesetaraan lah, uji kompetensi lah. Masa Papah harus dites segala.” Jawab musisi tersebut. “Ya kalau Bapak mau sih ikut-ikut audisi yang kayak di acara…