Media dan Etika | Terkait Meninggalnya Ani Yudhoyono

sumber: pixels

Sebelum membaca ini sebaiknya membaca motivasi perdamaian, agar asupan energi otak bertambah.
Pada dasarnya media terbagi menjadi 2 (dua) kategori. Yang pertama, media sebagai sumber informasi. Dan yang kedua media sebagai wadah hiburan. Kedua-duanya jangan disamaratakan loh ya, karena sudah berbeda konteksnya. Namun, lucunya sekarang ini media punya kemampuan kamuflase layaknya bunglon. Tidak bisa membedakan waktu yang tepat untuk memberikan informasi dan hiburan, dua-duanya digabung bak gado-gado. Yang bingung tentu pemirsah di rumah.

Pernyataan ini mendasar karena sebagai rakyat sudah jengah dengan banyaknya pemberitaan yang itu-itu saja dan yang terbaru sudah tidak ada etikanya. Tidak perlu disebutkan nama media mana yang demikian tentu kalian sudah tahu, yang pastinya media pemberitaan. Keresahan ini muncul karena semakin hari apabila diperhatikan dengan saksama dan dalam tempo yang lama media pemberitaan sudah tidak terkendali. Ya memang Undang-Undang Indonesia memberikan kebebasan berpendapat, berserikat, tetapi ada sebagian yang terlupa yaitu bertanggung jawab. Suatu kebebasan apabila tidak diberi pagar pembatas “tanggung jawab” tentu akan menimbulkan kebebasan yang barbar. Contoh nyata pada saat meninggalnya sosok Ibu Negara kita Ani Yudhoyono pada hari Sabtu, 1 Juni 2019 (al-Fatehah sejenak untuk beliau). Yang membuat rishi adalah ada salah satu media yang memberitakan kabar duka dengan diselipi politik. Walaupun atmosfer perpolitikan masih viral tetapi tidak beretika apabila berita duka diselipi atau dikait-kaitkan dengan politik. Membaca salah satu laman berita ada yang mengulas ketidakdatangan Prabowo dan Sandiaga Uno di pemakaman Ibu Ani. Dan ada yang mengulas Jokowi saat melayat. Seharusnya media dalam menyikapi hal-hal yang demikian lebih baik mengedepankan empati. Apabila warganet dapat menangkap pesan terselubung pemberitaan tersebut pasti akan geram, karena ada unsur muatan politik.

Seperti Prabowo, Sandiaga Uno, Jokowi merupakan tokoh politik Pemilu 2019 ini yang masih bersengketa. Seyogjanya media tidak memperkeruh suasana dengan mengulas hal-hal yang demikian disaat ada berita duka. Seolah-olah mereka ada masalah padahal faktanya tidak demikian. Opini anekdot begini, Prabowo dan Sandi tidak datang karena ada urusan masing-masing yang pastinya mendesak dan tidak bisa dibatalkan atau ditunda, karena tidak mungkin mereka tidak melayat kalau tidak ada sebuah urusan mengingat yang meninggal adalah Istri dari mantan orang nomor 1 di Indonesia. Dan mengenai Jokowi bisa hadir tentu karena memiliki waktu luang dan bisa dibilang berstatus Presiden (walaupun belum putusan Inkrah MK) oleh pandangan seluruh rakyat Indonesia. Datang atau tidaknya seseorang untuk melayat itu haknya setiap orang, urusan dan kepentingan orang tentu berbeda-beda. Jangan berspekulasi Prabowo-Sandi tidak hadir karena masalah politik dan Jokowi hadir melayat karena urusan politik juga. Beritakan yang baik-baik. Berikan pesan perdamaian untuk NKRI.

Tidak adil kalau media hanya menyorot Prabowo, Sandiaga, dan Jokowi saja. Coba media mempertanyakan ketidakhadiran sebagian rakyat Indonesia yang ingin melayat tetapi tidak bisa karena tidak ada ongkos ke Cikeas. Atau menyorot ketidakhadiran Mimi Peri melayat. Fair!

Post a Comment

0 Comments