Perspektif: People Power ala Indonesia

sumber: sindonews


Analisis Anekdot People Power---Atmosfir pemilu tahun 2019 berbeda dengan pemilu-pemilu yang pernah dilaksanakan terdahulu di Indonesia. Hal ini ditandai dengan adanya gembar-gembor gerakan people power. Tokoh di balik isu gerakan tersebut adalah Amien Rais, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN).

Amien Rais merupakan tokoh politisi senior di Indonesia yang sangat dihormati oleh beberapa orang yang berkecimpung di dunia perpolitikan Indonesia. Baik yang tokoh-tokoh politik senior maupun tokoh-tokoh junior yang masih awam dengan dunia perpolitikan. Tetapi, dari semua track record beliau di dunia perpolitikan sangat disayangkan perkataan mengenai people power muncul saat kondisi bangsa camuh gara-gara penghitungan quick poll dari berbagai lembaga-lembaga survey nasional yang memenagkan paslon 01 Jokowi-Ma’ruf dengan perolehan suara 54,5%. Tentu hal ini sebagai pemicu sikap sepihak Amien Rais tersebut.

Analisis berdasarkan sejarah dari people power yang pertama kali atau yang menjadi awal peristiwa gerakan tersebut muncul karena bertujuan untuk mengakhiri rezim otoriter Presiden Ferdinand Marcos dan pengangkatan Corazon Aquino sebagai presiden. Yang menarik dari gerakan tersebut adalah mereka mengumpulkan, menyatukan tujuan bersama dengan damai tanpa kekerasan untuk satu tujuan, yaitu menggulingkan pemerintahan yang otoriter. Peristiwa people power pecah di Filipina pada 22 Februari 1986. Tentu, hal tersebut berbeda dengan people power yang digaung-gaungkan oleh Amien Rais. Karena menurut analisis versi anekdot negeri, gerakan tersebut dapat memicu perang saudara di bangsa sendiri. Alasannya simpel, ketidakadilan dan ketidakpercayaan terhadap hasil survey dari lembaga-lembaga tangan kanan KPU (Komisi Pemilihan Umum) versi quick count.

Publik sudah cerdas dengan hal-hal perebutan kekuasaan istana. Tetapi yang sangat disayangkan adalah pihak-pihak kontestan seperti memperalat rakyat sebagai penghancur bangsa. Seperti rencana pembentukan people power untuk menggeruduk KPU. Mendesak untuk memenangkan paslon no. 02 Prabowo-Sandi. Kubu koalisi partai oposisi membeberkan ada kecurangan yang dilakukan secara sisitemik, dan massif oleh kubu petahana (Jokowi-Amin). Ya, surat suara C1 yang mereka kumpulkan memenangkan paslon junjungan mereka dengan perolehan presentase 62% versi lembaga internal BPN (Badan Pemenangan Nasional). Sehingga hal tersebutlah yang mendasari ujaran people power untuk menunjukkan ada sesuatu yang salah terhadap perhitungan yang dilakukan 12 lembaga suvey nasional. Sehingga dapat ditarik suatu benang merah bahwa kubu oposisi tidak terima dan tidak setuju dengan hasil 12 lembaga survey. Serta, tidak sabar menunggu pengumuman resmi real count KPU pada 22 Mei 2019. Entah apa yang ada dibenak mereka.

Sudah 3 kali sujud syukur dan mendeklarasikan kemenangan di muka publik. Hal ini juga pernah dilakukan saat pemilu 2014 silam dengan mendahului hasil real count KPU. Entah ada trauma yang mendalam atau ada hal-hal yang lain yang tidak diketahui oleh publik. Tetapi yang menarik di tahun pemilu kali ini adalah orang-orang yang mengusungnya, yaitu dari para Ulama-Ulama. Ulama FPI, GNPF, dan lain sebagainya. Banyak ujaran-ujaran politik diceramah-ceramah mereka yang tertuju pada salah satu paslon yaitu Prabowo-Sandi. Hal ini tidak mengapa apabila dalam ceramah mereka berisi rekomendasi pilihan dalam pemilu. Tetapi, yang tidak publik suka adalah saat ceramah mereka berisi ujaran kebencian, cemoohan, yang mengarah kepada lawan politik junjungan mereka. Hal ini tentu tidak pas dan tidak sesuai dengan gambaran dan narasi seorang Ulama dengan tingkat pemahaman agama di atas orang-orang awam. Ulama marwahnya tinggi. Karena mereka adalah pewaris Nabi. Maka dari itu, seyogjanya menerapkan semua hal apa yang melekat di dalam diri Nabi bukan hanya apa yang melekat pada pandangan dzohir (pakaian, dan penampilan).

Post a Comment

0 Comments