Skip to main content

Motivasi Perdamaian Indonesia Untuk People Power 22 Mei 2019

Falsafah Indonesia


Setelah pemilu 2019 usai banyak hal yang terjadi di Indonesia. Salah satunya aksi people power yang pernah terjadi tahun ’98 terulang kembali. Cuman bedanya massa tidak menggeruduk kantor DPR. Kemudian perbedaan lainnya adalah massa rata-rata berkopyah, bersorban, dan memakai baju koko/gamis. Sudahlah, lupakan politik identitas yang mengatas namakan SARA (Suku Agama Ras dan Antar golongan).
Pengumuman pemenang pesta demokrasi (Pilpres dan Pileg) sudah berlalu. Sekarang tinggal menata hidup untuk kehidupan yang akan datang. Tidak terimanya hasil rekapitulasi KPU biarlah elite-elite politik yang bersengketa, jangan kita yang terus-menerus disengketakan. Cebong dan kampret sudah berakhir, sekarang semua sudah lebur jadi NKRI. Demo yang awal mula dengan jargon damai seketika berubah jadi rusuh merupakan bentuk rekayasa politik para elite-elite politik mengadu domba damainya demokrasi kerakyatan yang ada di Indonesia dengan membawa isu-isu SARA mereka memecah belah bangsa untuk meraih nafsu kuasanya.
Sudahlah, jangan hiraukan mereka yang gila dengan kekuasaan dan rela memperkosa ibu pertiwi. Kita tanah air yang satu tanah air tanpa penindasan, berbangsa satu bangsa yang gandrung akan keadilan, dan berbahasa satu bahasa tanpa kebohongan.
Tanggal 22 Mei 2019 sudah menjadi sejarah. Mungkin nanti akan masuk kurikulum anak cucu kita kelak, ‘sejarah penggerudukan kantor Bawaslu karena kalah suara pada pemilu 2019’. Pada tulisan anekdot kali ini akan mematahkan pernyataan dari Bambang Widjojanto kuasa hukum Prabowo-Sandi yang mengatakan pemilu tahun ini adalah pemilu yang terburuk sepanjang sejarah demokrasi Indonesia. Hahaha, pernyataan yang tidak disertai data terkesan mendiskreditkan pejuang-pejuang penyelenggara 2x24 jam yang sampai meninggal dan sakit-sakitan. Dengan menuduh curang, curang, dan curang tetapi tidak bisa memberikan data yang akurat dan konkret sama saja seperti tong kosong nyaring bunyinya. Bukan pemilunya yang buruk, tetapi pesertanya yang buruk, yang tidak bisa menerima kekalahan dengan lapang dada bak kesatria dengan jiwa patriot. Katanya negarawan, tetapi kok memecah belah bangsa dengan ujaran kebencian? Akal sehat.
Memang di bangku-bangku sekolah atau kuliah tidak diajarkan BAB ‘Menerima Kekalahan Itu Hebat’ tetapi ya tidak juga dengan nada kebencian dan mengadu domba demi kepentingan itu hebat juga, salah besar. Justru dengan tidak terima dengan kekalahan dan menghalalkan segala cara agar diakui menang bukan sifat dan karakter seorang patriot. Lain kali, Indonesia harus berbenah dengan memberikan tes psikologi kepada tiap-tiap calon presiden, wakil presiden, dan semua orang yang ingin maju jadi elite politik. Karena bahaya kalau sampai kejadian tahun ini terulang kembali. Yang berbuat mereka (elite politik dan antek-anteknya), yang malu kita (penonton berita).

Comments

Popular posts from this blog

Motivasi Hidup: Cebong vs Kampret

Pada suatu Rimba Raya hiduplah dua ekor makhluk hidup yang berbeda tempat. Dua makhluk itu kecebong dan kampret. Kehidupan mereka berdua berbeda alam. Kecebong hidup di air. Sedangkan kampret hidup di daratan. Mereka berdua bertemu saat kampret minum air di sungai yang kebetulan si cebong sedang asyik berenang dengan kawan-kawannya. Saling tertegun di antara mereka. “Hai, siapa kau?” Tanya kampret pada kumpulan cebong. “Kau yang siapa, seenaknya minum di sungai ini” Jawaban ketus dari salah satu cebong. “Seenaknya katamu?!Heh, Aku sudah sering minum dan istirahat di sungai ini. Toh ini kan untuk dinikmati bersama” Jawab kampret dengan nada esmosi. “Tak pernah lihat wajah jelek sepertimu sebelumnya, hahaha” Cletukan salah satu cebong membuat riuh yang mengakibatkan gelap tawa rombongan mereka. Sontak kampret menjawab perkataan cebong di tengah-tengah riuh tawa rombongannya. “Apa salahnya? Apa salahnya aku haus dan minum? Perkataan kampret membungkam riuh mereka. Semenjak kejadian itu, cebong d…

Ujian Akhir Sekolah (UAS) antara hidup dan mati

Kring…kring..kriing bel sekolah berbunyi menandakan siswa dan siswi untuk masuk kelas untuk Ujian Akhir Sekolah (UAS). Desas-desusnya ujian kali ini ketat se-level penjara federal. Karena siswa dan siswinya tidak boleh melakukan trik lama, yaitu mencontek atau sitilahnya ilmu tetangga. Sangking ketatnya, kemungkinan lolos mencontek hanya 99% saja. Mengapa tidak 100%? Karena yang Esa (satu) itu Tuhan. Hal inilah yang membuat para murid-murid ketakutan, bahkan sampai ada yang keringat dingin. “Pak, aturan UASnya memang begini kah dari pak Menteri? Tanya salah satu murid pada gurunya. “Yaa, begini nak. Lha emangnya bagaimana?” Jawab Guru. “Tahun kemarin kan kaka tingkat kami gak kayak gini loh pak” siswa tersebut nampak cemberut dan simpul di bibirnya simpul mati. “Yaa, mau bagaimana lagi nak. Bapak dan Ibu gurumu ndak bisa berbuat apa-apa, hanya menjalankan amanat dari atasan” Guru tersebut menerangkan alasan UAS mereka berbeda. “ehem..ehem..guk..gruk (suara daham seorang pengawas UAS memecah…

Sarkasme : RUU Permusikan

Pada suatu masa, ada seorang musisi yang mencari rejeki dari panggung yang satu ke panggung lainnya. Musisi tersebut sudah terkenal di seantero jagad pernikahan dan acara-acara undangan yang lainnya. Bukan karena wajahnya yang tampan dan tubuhnya tinggi semampai, tetapi karena berkat suaranya yang merdu lah dia dapat manggung dan menghidupi keluarga besarnya. Pada suatu ketika dia berkumpul dengan keluarga melihat siaran berita di televisi apa yang dilihatnya meubah segalanya. Sontak saja dia dan keluarga besarnya bingung dengan berita yang tayang tersebut. “Pak, bagaimana? Apa harus Papah berganti profesi saja jadi petani atau pengusaha saja?” Tanya Istri musisi tersebut. “Mungkin Negara kita ini mau berevolusi. Sampai harus membuat RUU Permusikan. Harus ini lah, harus itulah. Yang membuat jengah itu ya masa pelaku musik harus melalui uji kesetaraan lah, uji kompetensi lah. Masa Papah harus dites segala.” Jawab musisi tersebut. “Ya kalau Bapak mau sih ikut-ikut audisi yang kayak di acara…