Petisiku, Boomerangku


Petisiku, Boomerangku / Kasus Audrey, di Pontianak


Kasus pembullyan yang terjadi baru-baru ini menyita banyak perhatian publik. Bagaimana tidak, baru 1x24 jam sudah sekitar 2 juta orang menandatangani petisi online. Wow, dengan perkembangan dunia digital yang sangat massif ini memang sudah bukan rahasia lagi apabila suatu berita dapat viral sampai ke pelosok negeri dengan beragam bentuk narasi yang sangat apik dan elegan.
Dunia medsos penuh dengan tagar #JusticeForAudrey. Sampai-sampai mengundang perhatian para youtuber, selebgram, elite politik, bahkan presiden. Rasa empati dan peduli dari semua pihak, menutupi fakta-fakta sebenarnya yang terjadi di TKP(Tempat Kejadian Perkara) pembullyan. Saking liarnya media, saking hiperbolanya berita membuat setiap orang yang membacanya tertipu dan terpedaya.
Fakta pertama, hasil visum menunjukkan bahwa tidak ada luka atau lebam bahkan robek pun pada selaput ‘keparawanan’ seperti yang diberitakan itu tidak terbukti. Berita yang selama ini tersebar di media-media sosial yang bahkan katanya dari pihak keluarga korban yang membuat sendiri berita liar tersebut membuat khalayak jagad medsos merasa tertipu.
Fakta kedua, baku hantam mereka bukan karena masalah pacar. Tetapi, pemantik baku hantam mereka malah karena bacotan di medsos yang notaben di langit (dunia maya). Pelaku dan korban saling bercuit, jual beli kata-kata pedas yang ditutup dengan kesepakatan mencari tempat baku hantam. Si korban A (14 tahun) ini masih duduk di bangku SMP dan pelaku yang rata-rata masih duduk di bangku SMA sama-sama mempunyai tingkat emosi yang meluap-luap, apalagi dalam menggunakan medsos kids zaman now terkenal dengan kebarbarannya.
Fakta ketiga, total pelaku hanya 3 orang saja. Tidak seperti yang diberitakan dibanyak media yang total pelakunya berjumlah 12 orang. Dari sinilah warganet banyak menghujat dengan berbagai macam hujatan kepada para pelaku.
Fakta keempat, korban dan pelaku sama-sama cabe (cewek baru gede). Apabila kita melihat dari sudut pandang kedua sisi, antara korban dan pelaku pasti akan menemukan kesamaan bahwa mereka memiliki kesamaan dalam hal ‘kenakalan’. Jadi, bisa dong menyimpulkan kalau baku hantam mereka cabe vs cabe. Cuman saja dibesar-besarkan oleh oknum-oknum yang mencari kesempatan dalam kesempitan. Dengan waktu sekejap saja akun korban di instagram pun dibanjiri followers, hampir 1jt pengikut kaibat masalah yang bisa dibilang perkelahian cabe vs cabe.
Fakta kelima, tidak ada luka yang serius. Baik di kepala korban, kemaluan, atau organ tubuh lainnya. Hasil visum dari forensik yang disampaikan kapolresta Pontianak saat sesi wawancara mengatakan TIDAK ADA luka-luka yang sangat serius seperti yang diberitakan di media-media.
Closing statement dari anekdotnegeri adalah, jangan terlalu cepat memberikan atau menarik kesimpulan dalam suatu masalah yang terjadi. Karena suatu kebenaran itu perlu dicari, di dalam ilmu hukum pun kebenaran perlu digali untuk mencapai suatu keadilan. Sehingga crosscheck sangat perlu dilakukan agar tidak terjadi ketimpangan. Bagaimana malunya si korban, apabila dugaan-dugaan yang sudah admin anekdotnegeri rangkum di atas terbukti benar? Tentu sangat malu, sehingga tidak menutup kemungkinan tagar yang viral #JusticeForAudrey akan berubah menjadi #AudreyJugaBersalah. Warganet dituntut untuk lebih hati-hati dalam bermedia. Gunakan akal sehat dan hati nurani untuk mencapai kebenaran. Sekian, salam akal sehat!

Post a Comment

0 Comments