Skip to main content

Pahlawan Demokrasi | Pemilu 2019

gambar via republika.co.id


Percakapan ini merupakan hal yang fiktif, apabila ada kesamaan dalam hal setting berarti memang sama. Dan itu merupakan kebanggaan.
Pada suatu hari, setelah pesta demokrasi di suatu negeri yang rakyatnya baik hati.
(ket: R=Rakyat, P=Penguasa)
R : “Pak, banyak anggota KPPS yang sakit dan meningeal dunia setelah pemilu?”
P : “Yaaa..saya tahu itu, patut diapresiasi pengorbanan mereka yang telah gugur di medan pertempuran.”
R : “Medan pertempuran? Maksud Bapak bagaimana?” (dengan raut muka kebingungan)
P : “Yaaa..mereka itu yang gugur di TPS-TPS saat pemilu. Mereka kan menjalankan tugasnya dengan maksimal dan professional.”
R : “Bukannya istilah gugur itu identic dengan pahlawan, Pak?”
P : “Yaaa..tepat sekali pernyataan anda. Sebutan pahlawan layak disematkan pada anggota-anggota KPPS yang meninggal di medan tugas. Mereka itu layak disebut pahlawan demokrasi.”
R : “Wah, saya kira untuk menjadi pahlawan harus berperang dulu melawan musuh-musuh negara yang membahayakan kesatuan dan persatuan bangsa.”
P : “Yaaa…mereka (KPPS) berjasa juga untuk bangsa kan. Tidak tidur 2x24 jam demi tercapainya, demi suksesnya demokrasi saat ini. Jadi hargailah, dan bangga kepada mereka yang telah gugur di TPS.”
R : “Saya jadi paham Pak,..” (sambil mengangguk-anggukkan kepala).
P : “Paham kan, maka dari itu support mereka-mereka pahlawan demokrasi.”
R : “Lain itu Pak maksud saya. Maksud saya para penguasa seperti Bapak seolah-olah cuci tangan dengan kejadian ini. Dan berdalih, mengalihkan focus masyarakat tentang buruknya regulasi.”
P : “Yaaa..anda jangan sok pintar kalau ngomong pakai data.”
R : “Perlu data yang kayak bagaimana lagi? Mereka, dan kami semua tahu kalau semua ini gara-gara regulasi dari penguasa. Petugas KPPS itu bukan PNS. Tidak ada jaminan BPJS Ketenagakerjaan. Kerjanya melebihi jam kerja pada umumnya manusia. Apa mikir sampai situ, Pak?”
P : “(Tertegun dan menunduk)”
Seketika obrolan yang mula-mulanya dingin. Berubah menjadi debat kusir.

Comments

Popular posts from this blog

Motivasi Hidup: Cebong vs Kampret

Pada suatu Rimba Raya hiduplah dua ekor makhluk hidup yang berbeda tempat. Dua makhluk itu kecebong dan kampret. Kehidupan mereka berdua berbeda alam. Kecebong hidup di air. Sedangkan kampret hidup di daratan. Mereka berdua bertemu saat kampret minum air di sungai yang kebetulan si cebong sedang asyik berenang dengan kawan-kawannya. Saling tertegun di antara mereka. “Hai, siapa kau?” Tanya kampret pada kumpulan cebong. “Kau yang siapa, seenaknya minum di sungai ini” Jawaban ketus dari salah satu cebong. “Seenaknya katamu?!Heh, Aku sudah sering minum dan istirahat di sungai ini. Toh ini kan untuk dinikmati bersama” Jawab kampret dengan nada esmosi. “Tak pernah lihat wajah jelek sepertimu sebelumnya, hahaha” Cletukan salah satu cebong membuat riuh yang mengakibatkan gelap tawa rombongan mereka. Sontak kampret menjawab perkataan cebong di tengah-tengah riuh tawa rombongannya. “Apa salahnya? Apa salahnya aku haus dan minum? Perkataan kampret membungkam riuh mereka. Semenjak kejadian itu, cebong d…

Ujian Akhir Sekolah (UAS) antara hidup dan mati

Kring…kring..kriing bel sekolah berbunyi menandakan siswa dan siswi untuk masuk kelas untuk Ujian Akhir Sekolah (UAS). Desas-desusnya ujian kali ini ketat se-level penjara federal. Karena siswa dan siswinya tidak boleh melakukan trik lama, yaitu mencontek atau sitilahnya ilmu tetangga. Sangking ketatnya, kemungkinan lolos mencontek hanya 99% saja. Mengapa tidak 100%? Karena yang Esa (satu) itu Tuhan. Hal inilah yang membuat para murid-murid ketakutan, bahkan sampai ada yang keringat dingin. “Pak, aturan UASnya memang begini kah dari pak Menteri? Tanya salah satu murid pada gurunya. “Yaa, begini nak. Lha emangnya bagaimana?” Jawab Guru. “Tahun kemarin kan kaka tingkat kami gak kayak gini loh pak” siswa tersebut nampak cemberut dan simpul di bibirnya simpul mati. “Yaa, mau bagaimana lagi nak. Bapak dan Ibu gurumu ndak bisa berbuat apa-apa, hanya menjalankan amanat dari atasan” Guru tersebut menerangkan alasan UAS mereka berbeda. “ehem..ehem..guk..gruk (suara daham seorang pengawas UAS memecah…

Sarkasme : RUU Permusikan

Pada suatu masa, ada seorang musisi yang mencari rejeki dari panggung yang satu ke panggung lainnya. Musisi tersebut sudah terkenal di seantero jagad pernikahan dan acara-acara undangan yang lainnya. Bukan karena wajahnya yang tampan dan tubuhnya tinggi semampai, tetapi karena berkat suaranya yang merdu lah dia dapat manggung dan menghidupi keluarga besarnya. Pada suatu ketika dia berkumpul dengan keluarga melihat siaran berita di televisi apa yang dilihatnya meubah segalanya. Sontak saja dia dan keluarga besarnya bingung dengan berita yang tayang tersebut. “Pak, bagaimana? Apa harus Papah berganti profesi saja jadi petani atau pengusaha saja?” Tanya Istri musisi tersebut. “Mungkin Negara kita ini mau berevolusi. Sampai harus membuat RUU Permusikan. Harus ini lah, harus itulah. Yang membuat jengah itu ya masa pelaku musik harus melalui uji kesetaraan lah, uji kompetensi lah. Masa Papah harus dites segala.” Jawab musisi tersebut. “Ya kalau Bapak mau sih ikut-ikut audisi yang kayak di acara…