Kata Penguasa: Mati Adalah Nasib | Narasi Negeriku


Wawancara yang akan mengubah cara pandang dan berpikirmu mengenai konsep nyawa.
Pada siang hari itu gedung pemerintahan daerah di sebuah pulau yang kaya sedang ada apel. Mendapati itu, warawan langsung menggeruduk pejabat yang sangat berpengaruh di pulau tersebut. dengan mencecar beberapa pertanyaan mengenai problematika yang terjadi di daerahnya.
(Note: W=Wartawan, P=Pejabat)
W: “Pak, bagaimana pendapat bapak mengenai bekas galian lubang bekas tambang di daerah bapak?”
P: “Tanggapan yang bagaimana?”
W: “Banyak masyarakat sekitar bekas galian tersebut tercebur di situ. Ya, ada ratusan koraban jiwa. Bagaimana pendapat bapak mengenai hal tersebut?”
P: “Ya sudah nasibnya.”
W: “Ha?Maksudnya pak?”
P: “Sudah nasibnya mati di situ.”
W: “Berarti maksud bapak warga yang meninggal, yang jadi korban lubang bekas tambang tersebut memang sudah nasibnya mati di situ? Saya bingung, padahal sebelum ada bekas galian tambang warga aman-aman saja.”
P: “Ya salah mereka kenapa tetap mandi di situ. Kan sudah ada pembatas dan sudah ada tulisannya dilarang mandi. Mereka aja yang bandel
W: “Oh jadi masyarakat yang salah. Terus bapak kan pejabat penting dan tentu paham regulasi. Apa upaya yang dilakukan Pemda menanggulangi agar tidak ada lagi korban yang berjatuhan?”
P: “Upaya yang bagaimana. Bekas tambang tersebutkan sudah ada plangnya DILARANG MANDI. Berartikan salah mereka kenapa tidak membaca plang tesebut.”
W: “Kalau upaya mereklamasi, pak? Presidenkan sudah memberikan mandate ke bapak terkait itu:”
P: “Mungkin anda salah dengar. Saya buru-buru, ada rapat, lain kali ya saya jawab.”

Si Wartawan tertegun sejenak sambil melihat pejabat tersebut berlalu dengan tergesa-gesa.
Dari sini kita bisa menyimpulkan kalau kematian itu sudah nasib. Ibaratnya seorang bayi yang sedang bermain dengan pistol. Kemudian menembak kepalanya sendiri dan akhirnya mati. Matinya si bayi tersebut sudah nasibnya kenapa bermain pistol.

Post a Comment

0 Comments