Quotes Renungan dan Sindiran Untuk Negeri, Part 1


"Seakan meludahi di atas tubuh yang resah dalam mengharap dan menuntut keadilan, dengan congkak kau bejalan mendongak ke atas dagumu, pandanganmu tanpa mempedulikan yang ada di bawahmu.
Bagaimana bisa kau berjalan mengabaikan atasanmu (rakyat)? Sumpahmu hanya sebuah formalitas yang tidak sesuai dengan realitas. Masih ingatkah pertama kali menarik hati kami (rakyat)? kau rela menjadi apa saja, kau rela mengorbankan semuanya. Tapi apa kini? kau korbankan kami.

"Kacang lupa kulitnya
Pribahasa lama di atas tidak akan lekang oleh waktu. Nampaknya tepat menggambarkan kondisi wakil rakyat yang seharusnya kembali untuk rakyat sebagai bentuk pengabdian dan pelaksanaan sumpah jabatan. Wakil rakyat dari rakyat, dipilih oleh rakyat karena percaya mampu mewakilkan suara-suara rakyat yang dibungkam dan diambil hak-haknya sebagai rakyat. Bukan malah sebaliknya. Membungkam rakyat, mematikan rakyat, memperbudak rakyat.

"Untuk membangun infrastruktur, jangan korbankan kami (rakyat)
Negara Indonesia adalah negara yang besar. Dengan total penduduk kurang lebih 267 juta jiwa di tahun 2017. Dan pada tiap tahunnya tentunya mengalami kenaikan yang sangat signifikan mengingat Negara Indonesia ini terdiri dari banyak pulau dan banyak gugusan pulau. Jangan lah korbankan salah satu di antara saudara-saudara kami demi infrastruktur. Kalian (wakil rakyat) harusnya lebih mengedepankan empati daripada money. Satu nyawa, sejuta luka. Karena kami satu, yaitu rakyat Indonesia.

Negara yang maju adalah Negara yang selalu mengedepankan kepentingan bersama untuk melakukan pembangunan
Sebaliknya, di kebanyakan Negara di dunia ini hanya penguasa yang melakukan pembangunan. Itulah sebabnya banyak di antara rakyatnya mengalami kesengsaraan dan penindasan oleh penguasa. Maka dari itu jadilah pelaku pembangunan, paling tidak jadi pengawal pembangunan. Budaya terima bersih bukan budaya sehat membangun Negeri.


"Mau sampai kapan menjadi penonton?
Pasti di antara kita semua senang menjadi penonton. Berdiri lah dari tempat duduk. Jadilah panutan yang menginspirasi untuk disebarkan ke seluruh penjuru Negeri. Tunjukkan, selain menjadi penonton yang cerdas. Jadi lah pelaku yang senantiasa bekerja keras dan berusaha menjadi bahan tontonan yang layak diambil semangat etosnya dalam bekerja.

Post a Comment

0 Comments