Skip to main content

Ujian Akhir Sekolah (UAS) antara hidup dan mati

ilustrasi bingung dong

Kring…kring..kriing bel sekolah berbunyi menandakan siswa dan siswi untuk masuk kelas untuk Ujian Akhir Sekolah (UAS). Desas-desusnya ujian kali ini ketat se-level penjara federal. Karena siswa dan siswinya tidak boleh melakukan trik lama, yaitu mencontek atau sitilahnya ilmu tetangga.
Sangking ketatnya, kemungkinan lolos mencontek hanya 99% saja. Mengapa tidak 100%? Karena yang Esa (satu) itu Tuhan. Hal inilah yang membuat para murid-murid ketakutan, bahkan sampai ada yang keringat dingin.
“Pak, aturan UASnya memang begini kah dari pak Menteri? Tanya salah satu murid pada gurunya.
“Yaa, begini nak. Lha emangnya bagaimana?” Jawab Guru.
“Tahun kemarin kan kaka tingkat kami gak kayak gini loh pak” siswa tersebut nampak cemberut dan simpul di bibirnya simpul mati.
“Yaa, mau bagaimana lagi nak. Bapak dan Ibu gurumu ndak bisa berbuat apa-apa, hanya menjalankan amanat dari atasan” Guru tersebut menerangkan alasan UAS mereka berbeda.
“ehem..ehem..guk..gruk (suara daham seorang pengawas UAS memecah obrolan mereka)”
“Mohon maaf pak, siswanya boleh masuk kelas? Karena Ujian mau dimulai. Ingat loh pak, Anda jangan memberi contekan pada murid-murid. Kalau sampai ketahuan saya, langsung saya borgol” sela pria gagah dan perkasa memecah suasana obrolan mereka.
“Iya pak, maaf.” Jawab Guru tersebut sambil tertunduk.
“Adek, masuk ya. Ujian mau dimulai. Silahkan duduk sesuai nomor urut yang sudah tertera di atas meja. Saya pengawas ujian adek ya.” Pria gagah tersebut berjalan masuk bebarengan dengan murid tersebut.
“Pak, UASnya memang harus diawasi seketat ini? Masa sudah kayak penangawasan buronan, harus dijaga satu persatu. Di tiap kursi pula.” Keluh murid tersebut.
“Adek jangan mengeluh ya, ini sudah sesuai SOP (Standar Nasional Prosedur) dari atasan. Untuk mengawasi agar tidak ada terjadi kecurangan” jawab santun pria gagah tersebut dalam posisi istirahat di tempat.
Akhirnya terdiamlah murid-murid saat salah satu pengawas membuka lembar Ujian, dan suasana kelas sunyi sepi. Pandangan mereka menunduk, sampai ada yang berkeringan deras. Peluhnya jatuh sampai ke lantai kelas. Hari pertama yang menegangkan.

Comments

  1. Replies
    1. Terimakasih. Nantikan postingan selanjutnya dengan mengklik tulisan follow di samping atau di bawah postingan ya. Happy reading

      Delete

Post a Comment

Budayakan membaca terlebih dahulu sebelum berkomentar, kritik dan saran sangat penting bagi author dalam mengenbangkan blog ini :)))

Popular posts from this blog

Motivasi Hidup: Cebong vs Kampret

Pada suatu Rimba Raya hiduplah dua ekor makhluk hidup yang berbeda tempat. Dua makhluk itu kecebong dan kampret. Kehidupan mereka berdua berbeda alam. Kecebong hidup di air. Sedangkan kampret hidup di daratan. Mereka berdua bertemu saat kampret minum air di sungai yang kebetulan si cebong sedang asyik berenang dengan kawan-kawannya. Saling tertegun di antara mereka. “Hai, siapa kau?” Tanya kampret pada kumpulan cebong. “Kau yang siapa, seenaknya minum di sungai ini” Jawaban ketus dari salah satu cebong. “Seenaknya katamu?!Heh, Aku sudah sering minum dan istirahat di sungai ini. Toh ini kan untuk dinikmati bersama” Jawab kampret dengan nada esmosi. “Tak pernah lihat wajah jelek sepertimu sebelumnya, hahaha” Cletukan salah satu cebong membuat riuh yang mengakibatkan gelap tawa rombongan mereka. Sontak kampret menjawab perkataan cebong di tengah-tengah riuh tawa rombongannya. “Apa salahnya? Apa salahnya aku haus dan minum? Perkataan kampret membungkam riuh mereka. Semenjak kejadian itu, cebong d…

Sarkasme : RUU Permusikan

Pada suatu masa, ada seorang musisi yang mencari rejeki dari panggung yang satu ke panggung lainnya. Musisi tersebut sudah terkenal di seantero jagad pernikahan dan acara-acara undangan yang lainnya. Bukan karena wajahnya yang tampan dan tubuhnya tinggi semampai, tetapi karena berkat suaranya yang merdu lah dia dapat manggung dan menghidupi keluarga besarnya. Pada suatu ketika dia berkumpul dengan keluarga melihat siaran berita di televisi apa yang dilihatnya meubah segalanya. Sontak saja dia dan keluarga besarnya bingung dengan berita yang tayang tersebut. “Pak, bagaimana? Apa harus Papah berganti profesi saja jadi petani atau pengusaha saja?” Tanya Istri musisi tersebut. “Mungkin Negara kita ini mau berevolusi. Sampai harus membuat RUU Permusikan. Harus ini lah, harus itulah. Yang membuat jengah itu ya masa pelaku musik harus melalui uji kesetaraan lah, uji kompetensi lah. Masa Papah harus dites segala.” Jawab musisi tersebut. “Ya kalau Bapak mau sih ikut-ikut audisi yang kayak di acara…