Skip to main content

Sarkasme : RUU Permusikan

ilustrasi neraca hukum  tidak seimbang

Pada suatu masa, ada seorang musisi yang mencari rejeki dari panggung yang satu ke panggung lainnya. Musisi tersebut sudah terkenal di seantero jagad pernikahan dan acara-acara undangan yang lainnya. Bukan karena wajahnya yang tampan dan tubuhnya tinggi semampai, tetapi karena berkat suaranya yang merdu lah dia dapat manggung dan menghidupi keluarga besarnya.
Pada suatu ketika dia berkumpul dengan keluarga melihat siaran berita di televisi apa yang dilihatnya meubah segalanya. Sontak saja dia dan keluarga besarnya bingung dengan berita yang tayang tersebut.
“Pak, bagaimana? Apa harus Papah berganti profesi saja jadi petani atau pengusaha saja?” Tanya Istri musisi tersebut.
“Mungkin Negara kita ini mau berevolusi. Sampai harus membuat RUU Permusikan. Harus ini lah, harus itulah. Yang membuat jengah itu ya masa pelaku musik harus  melalui uji kesetaraan lah, uji kompetensi lah. Masa Papah harus dites segala.” Jawab musisi tersebut.
“Ya kalau Bapak mau sih ikut-ikut audisi yang kayak di acara-acara tv itu. Biar dapat “sertifikat” yang tentunya diakui Negara. Kalau gak mau ya gak pp kan kita masih ada lahan sawah yang bisa digarab, sama ada uang simpanan buat usaha kecil-kecilan juga bisa, Pah.” Perkataan Istrinya dengan legowo menerima kenyataan yang ada.
“Ikut audisi? Kurang apalagi suara Papah?” Jawab kesal musisi tersebut.
“Iya. Memang suara Papah bagus. Dan sering diundang ke acara-acara pejabat. Tapi kan Papah gak diakui berkompetensi. Memang ada sertifikat Papah? Memang pernah Papah ikut uji kompetensi lembaga musik yang diakui Negara? Tidak pernah kan?. Sudah lah Pah malas Mamah berdebat toh pemerintah juga gak mikir bagaimana perasaan para pelaku musik seperti papah. Sekarang semua keputusan ada di tangan Papah.” Istri musisi tersebut mulai ngambek.
Suasana langsung hening sejenak tanpa perbincangan dan hanya suara televisi yang menyiarkan siaran berita. Musisi tersebut hanya menunduk lesu mendengar perkataan Istrinya.
“Baiklah. Papah ikut saran Mamah. Kalau dipikir-pikir membuang-buang waktu saja, mending Papah beralih profesi saja. Walaupun sudah bertahun-tahun berkarier di dunia permusikan sirna begitu saja karena RUU yang berisi pasal-pasal karet yang hanya condong ke perut-perut penguasa. Biarlah bangsa ini yang menyingkap semua, penindasan ini. Apadaya kita yang hanya rakyat kelas bawah hanya tahu bekerja dan bekerja saja.”
Televisi langsung dimatikan. Dan Istrinya berjalan menuju kamar tidur meninggalkan musisi tersebut yang berada di ruang keluarga dengan kedua anak-anaknya.

 ttd
Suara Gema Di Dalam Gua

Comments

  1. Replies
    1. Iya, sudah bukan rahasia lagi carut marut RUU Permusikan. Karena berita mengenai ini sudah sampai mancanegara. Banyak pelaku-pelaku musik dari luar negeri yang mengkritik RUU ini.

      Delete

Post a Comment

Budayakan membaca terlebih dahulu sebelum berkomentar, kritik dan saran sangat penting bagi author dalam mengenbangkan blog ini :)))

Popular posts from this blog

Motivasi Hidup: Cebong vs Kampret

Pada suatu Rimba Raya hiduplah dua ekor makhluk hidup yang berbeda tempat. Dua makhluk itu kecebong dan kampret. Kehidupan mereka berdua berbeda alam. Kecebong hidup di air. Sedangkan kampret hidup di daratan. Mereka berdua bertemu saat kampret minum air di sungai yang kebetulan si cebong sedang asyik berenang dengan kawan-kawannya. Saling tertegun di antara mereka. “Hai, siapa kau?” Tanya kampret pada kumpulan cebong. “Kau yang siapa, seenaknya minum di sungai ini” Jawaban ketus dari salah satu cebong. “Seenaknya katamu?!Heh, Aku sudah sering minum dan istirahat di sungai ini. Toh ini kan untuk dinikmati bersama” Jawab kampret dengan nada esmosi. “Tak pernah lihat wajah jelek sepertimu sebelumnya, hahaha” Cletukan salah satu cebong membuat riuh yang mengakibatkan gelap tawa rombongan mereka. Sontak kampret menjawab perkataan cebong di tengah-tengah riuh tawa rombongannya. “Apa salahnya? Apa salahnya aku haus dan minum? Perkataan kampret membungkam riuh mereka. Semenjak kejadian itu, cebong d…

Ujian Akhir Sekolah (UAS) antara hidup dan mati

Kring…kring..kriing bel sekolah berbunyi menandakan siswa dan siswi untuk masuk kelas untuk Ujian Akhir Sekolah (UAS). Desas-desusnya ujian kali ini ketat se-level penjara federal. Karena siswa dan siswinya tidak boleh melakukan trik lama, yaitu mencontek atau sitilahnya ilmu tetangga. Sangking ketatnya, kemungkinan lolos mencontek hanya 99% saja. Mengapa tidak 100%? Karena yang Esa (satu) itu Tuhan. Hal inilah yang membuat para murid-murid ketakutan, bahkan sampai ada yang keringat dingin. “Pak, aturan UASnya memang begini kah dari pak Menteri? Tanya salah satu murid pada gurunya. “Yaa, begini nak. Lha emangnya bagaimana?” Jawab Guru. “Tahun kemarin kan kaka tingkat kami gak kayak gini loh pak” siswa tersebut nampak cemberut dan simpul di bibirnya simpul mati. “Yaa, mau bagaimana lagi nak. Bapak dan Ibu gurumu ndak bisa berbuat apa-apa, hanya menjalankan amanat dari atasan” Guru tersebut menerangkan alasan UAS mereka berbeda. “ehem..ehem..guk..gruk (suara daham seorang pengawas UAS memecah…