Skip to main content

Sarkasme : Negara Paling Berani di Dunia


Pemulung Cerdas


Pada saat terik panas matahari si Jradul dan Bradul masih asik bekerja memilah sampah-sampah di TPS (Tempat Pembuangan Sampah) di pinggir kota metropolitan. Tumpukan sampah bagi mereka berdua adalah berkah. Karena mata pencaharian utama mereka itu, jadi mau tidak mau harus berkecimpung dengan dunia persampahan.

Walaupun profesi mereka seorang pemulung bukan berarti halangan untuk terus belajar. Jangan salah, di rumah mereka banyak tumpukan-tumpukan buku bekas yang mereka ambil dari banyak TPS. Dari membaca buku-buku tersebut mereka belajar secara autodidak. Tak jarang mereka berdua sering melakukan diskusi-diskusi kecil sebagai sarana bertukar ilmu dan merembukkan masalah.

Pernah suatu ketika mereka mendapati koran yang isinya tentang korupsi berjamaah anggota DPRD.
“Jra, lihat nih berita.”
“Apaan, Bra”
“Ini ni anggota DPRD korupsi.”
“Halah sudah biasa itu mah. Tiap hari itu-itu aja beritanya.”
“Ini lain Jra. Korupsinya berjamaan. Lihat nih (sambil menjulungkan koran) pakaiaan kuning-kuning khas mereka.”
“Widih. Iya Bra. Sudah kayak gebong kereta aja. Panjang bener barisannya.”
“Makanya tuh. Kurang apalagi coba mereka Jra. Kerja gak kepanasan, pakai dasi, pakai sepatu, gaji terjamin, tapii masih aja korupsi. Ckckck (sambil menggelengkan kepala).”
“Ha..ha..ha yang namanya kufur ya begitu Bra. Diberi rezeki berkecukupan..eh mau nambah lagi.”
“Iya ya Jra. Kapan ya kita bisa korupsi kayak mereka?(sambil berangan-angan memandang langit).”
“Ha..ha..ha Bra..Bra ngimpi aja. Lha wong kita loh pemulung, apa yang mau dikorupsi. Aneh-aneh aja..ha..ha (sambil menepuk pundak Jradul).”
“Ya ndak ada salahnya kan ngimpi..ha..ha..ha.”
“Eh iya Bra. Aku ada tebak-tebakan nih. Kalau lu bisa jawab gua traktir di warteg. Tapi jawabannya jangan ngasal, harus ada alasannya.”
“Weh, bisa-bisa. Apa pertanyaannya? Cepetan sudah gak sabar.”
“Negara apa yang paling berani dan gak takut dengan negara manapun?”
“Amerika.”
“Alasannya, Bra?”
“Alasannya ya Amerika kan negara besar. Negara adidaya, super power lah. Canggih-canggih lagi teknologinya.”
“Iya memang benar kalau Amerika itu canggih-canggih. Tapi kan Amerika takut dengan Rusia. Dan sebaliknya Rusia juga takut kalau Amerika menyerang.”
“Heh iya ya (sambil mengaruk kepala). Oh iya, Korut Jra? Tentaranya keren-keren tahan banting. Ada nuklirnya pula.”
“Hahaha..memang benar Bra Korut ada banyak Nuklirnya. Tapi kan Korut takut dengan Korsel. Atau malah sebaliknya. Saling memperkuat persenjataan.”
“Dah nyerah..(sambil mengangkat tangan) aku nyerah Jra. Apa jawabannya?”
“Negara kita, Bra. Indonesia (sambil nyengir).”
“Kok bisa? (Bradul sontak bingung)”
“Indonesia lah. Sama Tuhan saja gak takut apalagi dengan negara-negara di dunia. Lihat tuh di koran barusan. Anggota DPRD korupsi massal. Mereka itu di sumpah jabatan dengan kitabnya masing-masing. Kalau yang agama Islam dengan al-Qur’an, yang Kristen dengan Al-Kitab, dan yang agama Hindu dengan Weda. Sumpah jabatannya itu gak main-main loh, di hadapan Tuhan mereka mengucap untuk mengabdi kepada negeri.”
“(Brajul hanya melongo mendengar penjelasan Jradul tersebut)”
“Heh, Bra. Heh..(sambil menepuk-nepuk tangan Brajul)”
“Eh sori sori..aku ndak nyangka lu bisa ngomong kayak gitu Jra. (sambil menepuk pundak Jradul).”
“Heheh..ya sudah ayok makan, aku traktir deh.” Ajak Jradul.
“Eh beneran? Aku kan gagal jawab?”
“Sudah gak usah banyak ngomong. Mumpung ada rezeki nih. Ayok.”
“Alhamdulillah, rezeki memang gak kemana. Hahah.”

Sambil berangkulan mereka berdua berjalan menuju warteg.


*Note: Mohon maaf apabila ada kesamaan nama, dan penulisan yang kiranya menyinggung. Itu semua murni ketidaksengajaan. Tulisan ini berasan dari intuisi dan serapan dari gejolak dinamika policik kekuasaan di negeri tercintah ini.

Comments

Popular posts from this blog

Motivasi Hidup: Cebong vs Kampret

Pada suatu Rimba Raya hiduplah dua ekor makhluk hidup yang berbeda tempat. Dua makhluk itu kecebong dan kampret. Kehidupan mereka berdua berbeda alam. Kecebong hidup di air. Sedangkan kampret hidup di daratan. Mereka berdua bertemu saat kampret minum air di sungai yang kebetulan si cebong sedang asyik berenang dengan kawan-kawannya. Saling tertegun di antara mereka. “Hai, siapa kau?” Tanya kampret pada kumpulan cebong. “Kau yang siapa, seenaknya minum di sungai ini” Jawaban ketus dari salah satu cebong. “Seenaknya katamu?!Heh, Aku sudah sering minum dan istirahat di sungai ini. Toh ini kan untuk dinikmati bersama” Jawab kampret dengan nada esmosi. “Tak pernah lihat wajah jelek sepertimu sebelumnya, hahaha” Cletukan salah satu cebong membuat riuh yang mengakibatkan gelap tawa rombongan mereka. Sontak kampret menjawab perkataan cebong di tengah-tengah riuh tawa rombongannya. “Apa salahnya? Apa salahnya aku haus dan minum? Perkataan kampret membungkam riuh mereka. Semenjak kejadian itu, cebong d…

Ujian Akhir Sekolah (UAS) antara hidup dan mati

Kring…kring..kriing bel sekolah berbunyi menandakan siswa dan siswi untuk masuk kelas untuk Ujian Akhir Sekolah (UAS). Desas-desusnya ujian kali ini ketat se-level penjara federal. Karena siswa dan siswinya tidak boleh melakukan trik lama, yaitu mencontek atau sitilahnya ilmu tetangga. Sangking ketatnya, kemungkinan lolos mencontek hanya 99% saja. Mengapa tidak 100%? Karena yang Esa (satu) itu Tuhan. Hal inilah yang membuat para murid-murid ketakutan, bahkan sampai ada yang keringat dingin. “Pak, aturan UASnya memang begini kah dari pak Menteri? Tanya salah satu murid pada gurunya. “Yaa, begini nak. Lha emangnya bagaimana?” Jawab Guru. “Tahun kemarin kan kaka tingkat kami gak kayak gini loh pak” siswa tersebut nampak cemberut dan simpul di bibirnya simpul mati. “Yaa, mau bagaimana lagi nak. Bapak dan Ibu gurumu ndak bisa berbuat apa-apa, hanya menjalankan amanat dari atasan” Guru tersebut menerangkan alasan UAS mereka berbeda. “ehem..ehem..guk..gruk (suara daham seorang pengawas UAS memecah…

Sarkasme : RUU Permusikan

Pada suatu masa, ada seorang musisi yang mencari rejeki dari panggung yang satu ke panggung lainnya. Musisi tersebut sudah terkenal di seantero jagad pernikahan dan acara-acara undangan yang lainnya. Bukan karena wajahnya yang tampan dan tubuhnya tinggi semampai, tetapi karena berkat suaranya yang merdu lah dia dapat manggung dan menghidupi keluarga besarnya. Pada suatu ketika dia berkumpul dengan keluarga melihat siaran berita di televisi apa yang dilihatnya meubah segalanya. Sontak saja dia dan keluarga besarnya bingung dengan berita yang tayang tersebut. “Pak, bagaimana? Apa harus Papah berganti profesi saja jadi petani atau pengusaha saja?” Tanya Istri musisi tersebut. “Mungkin Negara kita ini mau berevolusi. Sampai harus membuat RUU Permusikan. Harus ini lah, harus itulah. Yang membuat jengah itu ya masa pelaku musik harus melalui uji kesetaraan lah, uji kompetensi lah. Masa Papah harus dites segala.” Jawab musisi tersebut. “Ya kalau Bapak mau sih ikut-ikut audisi yang kayak di acara…