Polemik BPJS Kesehatan dan kartu sakti program pemerintah



Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan merupakan suatu badan asuransi yang digalakkan pemerintah untuk menampung semua pasien terutama untuk pasien yang berekonomi kelas menengah ke bawah yang menggunakan “tiket” Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang tentunya iuran kepesertaannya dibayar oleh pemerintah yang dialokasikan dalam APBN. Ya, dualism kartu jaminan kesehatan untuk rakyat miskin ini menuai banyak kritikan, karena banyak terjadi diskriminasi antara dia yang bayar tunai dengan dia yang dibayar pemerintah. Sejak awal beroperasinya BPJS pada 1 Januari 2014 sampai sekarang, pasien yang berekonomi menengah ke bawah (tidak mampu secara finansial) ‘kurang’ diprioritaskan perawatannya atau bisa dikatakan banyak terjadi perlakuan yang diskriminatif terhadap golongan berfinansial rendah.

Banyaknya pasien kelas finansial rendah (miskin) yang terlantar di rumah sakit-rumah sakit menambah catatan buruk program asuransi dari pemerintahan yang berbau ‘gratisan’ tersebut. Keluhan demi keluhan yang dialami masyarakat miskin mengenai kejelasan program-program jaminan kesehatan sehingga muncul pertanyaan ‘Sebenarnya, untuk siapa Kartu Indonesia Sehat?’ dan ‘Apakah BPJS kesehatan hanya diperuntukkan untuk mereka-mereka yang mampu bayar iuran tunai dari kantong tebalnya?’

Diskriminasi. Kartu Indonesia Sehat bisa saja berubah nama menjadi Kartu Indonesia Sakit. Karena perlakuan para oknum pelayanan kesehatan terhadap masyarakat miskin lah yang malah menyakitkan penyakitnya, bukan malah mensehatkan tubuhnya/jasmaninya. Masalah data terlantarnya pasien-pasien miskin karena pelayanan yang diskriman bisa rekan-rekan searching sendiri ‘pasien miskin terlantar dengan kartu kesehatan’.

Sehingga Pasal 34 ayat 1 UUD 1945 yang berbunyi : “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara Negara” masih belum jelas kata ‘fakir miskin’ itu tertuju kepada siapa. Tertuju kepada rakyat yang katakanlah bekerja serabutan dengan gaji puluhan ribu per-harinya, atau fakir miskin yang berjas, berdasi yang selalu merasa kurang berkecukupan dengan gajih puluhan juta tiap bulannya. Alangkah lucunya negeri ini, yang miskin semakin miskin dan menderita karena haknya ‘diperkosa’ oleh penguasa.

Miris. Bagaimana pendapat kalian dengan kartu-kartu sakti dan program-program yang ‘merakyat’ tersebut? Tuliskan aspirasi kalian di kolom komentar.

Post a Comment

0 Comments