Skip to main content

Motivasi Hidup: Cebong vs Kampret

ilustrasi persahabatan


Pada suatu Rimba Raya hiduplah dua ekor makhluk hidup yang berbeda tempat. Dua makhluk itu kecebong dan kampret.
Kehidupan mereka berdua berbeda alam. Kecebong hidup di air. Sedangkan kampret hidup di daratan. Mereka berdua bertemu saat kampret minum air di sungai yang kebetulan si cebong sedang asyik berenang dengan kawan-kawannya. Saling tertegun di antara mereka.
“Hai, siapa kau?” Tanya kampret pada kumpulan cebong.
“Kau yang siapa, seenaknya minum di sungai ini” Jawaban ketus dari salah satu cebong.
“Seenaknya katamu?!Heh, Aku sudah sering minum dan istirahat di sungai ini. Toh ini kan untuk dinikmati bersama” Jawab kampret dengan nada esmosi.
“Tak pernah lihat wajah jelek sepertimu sebelumnya, hahaha” Cletukan salah satu cebong membuat riuh yang mengakibatkan gelap tawa rombongan mereka.
Sontak kampret menjawab perkataan cebong di tengah-tengah riuh tawa rombongannya.
“Apa salahnya? Apa salahnya aku haus dan minum? Perkataan kampret membungkam riuh mereka.
Semenjak kejadian itu, cebong dan kampret mulai berseteru. Entah soal minum, makanan, maupun wilayah. Mereka saling gontok-gontokan merebutkan kekuasaan. Puncaknya pada saat musim kemarau hebat. Akhirnya Si cebong dan kawan-kawan mengadakan musyawarah soal krisis air.
“Air kita semakin menyusut. Kalau kita tidak pergi ke bendungan. Tetapi masalahnya, bendungan tersebut jauh. Bisa-bisa kita bisa mati kering di perjalanan dan jadi cebong krispy ”
Suasana musyawarah langsung gaduh. Di kegaduhan itu, tiba-tiba ada salah satu anak-anak nyeletuk di kerumunan para tetua.
“Kenapa kita tidak minta bantuan om kampret saja?” *BC (Bocah Cebong).
“Tahu apa bocah. Kaum kita ini sudah bermusuhan dengan mereka” *TC (Tetua Cebong).
“Apa salahnya kita berdamai saja dengan om kampret? Siapa tahu om kampret bisa membantu kita.” *BC (Bocah Cebong).
“Jangan bodoh bocah. Kami sampai kapan pun tidak akan pernah berdamai. Pantang orang tua menarik kata-kata.” *TC (Tetua Cebong).
“Ya sudah. Aku memang bocah, Tetua. Tetapi hatiku dan pikiranku mengalahkan egoku. Terimakasih sudah diizinkan bersuara.” *BC (Bocah Cebong).
Setelah itu, anak tersebut berenang mencari keberadaan kampret di area bantaran sungai. Dan akhirnya.
“Om, om kampret..
Bersambung…

Comments

  1. Terimakasih. Nantikan postingan selanjutnya dengan mengklik tombol follow di samping atau di bawah postingan. Happy reading

    ReplyDelete

Post a Comment

Budayakan membaca terlebih dahulu sebelum berkomentar, kritik dan saran sangat penting bagi author dalam mengenbangkan blog ini :)))

Popular posts from this blog

Ujian Akhir Sekolah (UAS) antara hidup dan mati

Kring…kring..kriing bel sekolah berbunyi menandakan siswa dan siswi untuk masuk kelas untuk Ujian Akhir Sekolah (UAS). Desas-desusnya ujian kali ini ketat se-level penjara federal. Karena siswa dan siswinya tidak boleh melakukan trik lama, yaitu mencontek atau sitilahnya ilmu tetangga. Sangking ketatnya, kemungkinan lolos mencontek hanya 99% saja. Mengapa tidak 100%? Karena yang Esa (satu) itu Tuhan. Hal inilah yang membuat para murid-murid ketakutan, bahkan sampai ada yang keringat dingin. “Pak, aturan UASnya memang begini kah dari pak Menteri? Tanya salah satu murid pada gurunya. “Yaa, begini nak. Lha emangnya bagaimana?” Jawab Guru. “Tahun kemarin kan kaka tingkat kami gak kayak gini loh pak” siswa tersebut nampak cemberut dan simpul di bibirnya simpul mati. “Yaa, mau bagaimana lagi nak. Bapak dan Ibu gurumu ndak bisa berbuat apa-apa, hanya menjalankan amanat dari atasan” Guru tersebut menerangkan alasan UAS mereka berbeda. “ehem..ehem..guk..gruk (suara daham seorang pengawas UAS memecah…

Sarkasme : RUU Permusikan

Pada suatu masa, ada seorang musisi yang mencari rejeki dari panggung yang satu ke panggung lainnya. Musisi tersebut sudah terkenal di seantero jagad pernikahan dan acara-acara undangan yang lainnya. Bukan karena wajahnya yang tampan dan tubuhnya tinggi semampai, tetapi karena berkat suaranya yang merdu lah dia dapat manggung dan menghidupi keluarga besarnya. Pada suatu ketika dia berkumpul dengan keluarga melihat siaran berita di televisi apa yang dilihatnya meubah segalanya. Sontak saja dia dan keluarga besarnya bingung dengan berita yang tayang tersebut. “Pak, bagaimana? Apa harus Papah berganti profesi saja jadi petani atau pengusaha saja?” Tanya Istri musisi tersebut. “Mungkin Negara kita ini mau berevolusi. Sampai harus membuat RUU Permusikan. Harus ini lah, harus itulah. Yang membuat jengah itu ya masa pelaku musik harus melalui uji kesetaraan lah, uji kompetensi lah. Masa Papah harus dites segala.” Jawab musisi tersebut. “Ya kalau Bapak mau sih ikut-ikut audisi yang kayak di acara…