Skip to main content

Jabatan : Budaya Ikut-ikutan, Uang Panas Rakyat


Siang itu para Kepala Desa rapat disalah satu rumah dinas pejabat daerah setempat. Rapat itu kebetulan membahas mengenai Dana Desa yang sedang hangat diperbincangkan.

A : “Mengenai Dana Desa yang sekarang lagi hangat-hangatnya diperbincangkan khalayak ramai, bagaimana pendapat rekan-rekan sekalian?
B : “Kalau itu sih menurut aku, sah-sah saja diberikan kepada kita. Lumayan loh jumlah nominalnya.”
C : “Iya sih lumayan. Ya kalau buat ternak lele ya masih sisal ah.”
B : “Ha..ha..ha..Dana Desa kok buat ternak lele ada-ada saja. Mending buat beli mobil sprot. Gak kebayang kalau sudah cair, langsung aku belikan mobil idaman itu. Bosan lah tiap hari pakai mobil operasional, platnya merah.”
A : “Ehem, ko pembahasannya kayaknya menyimpang dari topik.”
B : “Menyimpang bagaimana? Dana Desa kan milik kita para kepala-kepala desa. Toh masyarakat kan gak tahu.”
C : “Iya itu betul. Itung-itung balik modal pas pilkada tahun lalu. Gengsi dong masa pejabat kayak kita-kita ini terlihat miskin di hadapan warga-warga biasa. Kita ini pejabat, harus memanfaatkan hal tersebut.”
A : “Ya, gak bisa begitu dong. Dana Desa kan buat pembangunan desa. Toh itukan juga uang negara, tidak sepatutnya kita selewengkan buat kepentingan pribadi.”
B : “Halah, coba lihat orang-orang yang berdasi yang duduk di balik gedung megah  DPR. Uang-uang negara mereka kantongi, mereka tumpuk itu duit rakyat untuk kepentingan pribadi. Mereka bisa, kenapa kita tidak? Toh total uang Dana Desa juga gak seberapa dibanding total uang negara yang sudah mereka ambil.”
C : “Sekarang gini aja. Anda mau ikut jalan kami atau sok-sok’an lurus? Banyak loh orang-orang yang teriak-teriak anti korupsi, anti suap, anti sogok, tapi apa? Ujung-ujungnya ngikut juga tuh. Sudah lah, warga desa gak bakalan tahu tingkah kita. Yang terpenting itu kita bisa memberi mereka kebutuhan sembako tiap bulan kan beres.”
A : “Tapi? Kira-kira dosa gak perbuatan kita ini? Kita sudah disumpah loh untuk mengabdi kepada warga desa. Amanat warga ada di bahu kita.”
B : “Heleh, lihat saja di balik gedung DPR itu juga sama disumpah. Malah amanatnya lebih berat di bahu mereka. Tetapi apa? Mereka menghianitanya.”
A : “Kalau masalah ditangkap, terus diadili? Apa gak malu kita.”
C : “Santai aja, kita bisa lolos dipersidangan. Bahkan ditingkat pusat.”
A : “Caranya?”
C : “Kita sogok mereka-mereka yang ada di pengadilan kan beres urusan. Kayak kasus-kasus itu-itu yang ketua MK masuk bui. Ketuanya saja doyan suap, apalagi bawahannya.”
A : “Iya..iya okedeh kalau begitu. Kita saling kerjasama aja. Kalau ada lembaga KPK atau lembaga audit dari pusat datang saling kerjasama menutupi celah.”
B : “Gampang itu. Maju bersama, sukses bersama, dan kaya bersama. Ha..ha..ha”
C : “Mantul…ha..haha”

Mereka bertiga tertawa bahagia menyambut kabar gembira kucuran Dana Desa.

"Apabila anda beteman dengan penjual parfum, anda akan ikut wangi. Jika, anda beteman dengan penjual ikan, amislah.

Comments

Popular posts from this blog

Motivasi Hidup: Cebong vs Kampret

Pada suatu Rimba Raya hiduplah dua ekor makhluk hidup yang berbeda tempat. Dua makhluk itu kecebong dan kampret. Kehidupan mereka berdua berbeda alam. Kecebong hidup di air. Sedangkan kampret hidup di daratan. Mereka berdua bertemu saat kampret minum air di sungai yang kebetulan si cebong sedang asyik berenang dengan kawan-kawannya. Saling tertegun di antara mereka. “Hai, siapa kau?” Tanya kampret pada kumpulan cebong. “Kau yang siapa, seenaknya minum di sungai ini” Jawaban ketus dari salah satu cebong. “Seenaknya katamu?!Heh, Aku sudah sering minum dan istirahat di sungai ini. Toh ini kan untuk dinikmati bersama” Jawab kampret dengan nada esmosi. “Tak pernah lihat wajah jelek sepertimu sebelumnya, hahaha” Cletukan salah satu cebong membuat riuh yang mengakibatkan gelap tawa rombongan mereka. Sontak kampret menjawab perkataan cebong di tengah-tengah riuh tawa rombongannya. “Apa salahnya? Apa salahnya aku haus dan minum? Perkataan kampret membungkam riuh mereka. Semenjak kejadian itu, cebong d…

Ujian Akhir Sekolah (UAS) antara hidup dan mati

Kring…kring..kriing bel sekolah berbunyi menandakan siswa dan siswi untuk masuk kelas untuk Ujian Akhir Sekolah (UAS). Desas-desusnya ujian kali ini ketat se-level penjara federal. Karena siswa dan siswinya tidak boleh melakukan trik lama, yaitu mencontek atau sitilahnya ilmu tetangga. Sangking ketatnya, kemungkinan lolos mencontek hanya 99% saja. Mengapa tidak 100%? Karena yang Esa (satu) itu Tuhan. Hal inilah yang membuat para murid-murid ketakutan, bahkan sampai ada yang keringat dingin. “Pak, aturan UASnya memang begini kah dari pak Menteri? Tanya salah satu murid pada gurunya. “Yaa, begini nak. Lha emangnya bagaimana?” Jawab Guru. “Tahun kemarin kan kaka tingkat kami gak kayak gini loh pak” siswa tersebut nampak cemberut dan simpul di bibirnya simpul mati. “Yaa, mau bagaimana lagi nak. Bapak dan Ibu gurumu ndak bisa berbuat apa-apa, hanya menjalankan amanat dari atasan” Guru tersebut menerangkan alasan UAS mereka berbeda. “ehem..ehem..guk..gruk (suara daham seorang pengawas UAS memecah…

Sarkasme : RUU Permusikan

Pada suatu masa, ada seorang musisi yang mencari rejeki dari panggung yang satu ke panggung lainnya. Musisi tersebut sudah terkenal di seantero jagad pernikahan dan acara-acara undangan yang lainnya. Bukan karena wajahnya yang tampan dan tubuhnya tinggi semampai, tetapi karena berkat suaranya yang merdu lah dia dapat manggung dan menghidupi keluarga besarnya. Pada suatu ketika dia berkumpul dengan keluarga melihat siaran berita di televisi apa yang dilihatnya meubah segalanya. Sontak saja dia dan keluarga besarnya bingung dengan berita yang tayang tersebut. “Pak, bagaimana? Apa harus Papah berganti profesi saja jadi petani atau pengusaha saja?” Tanya Istri musisi tersebut. “Mungkin Negara kita ini mau berevolusi. Sampai harus membuat RUU Permusikan. Harus ini lah, harus itulah. Yang membuat jengah itu ya masa pelaku musik harus melalui uji kesetaraan lah, uji kompetensi lah. Masa Papah harus dites segala.” Jawab musisi tersebut. “Ya kalau Bapak mau sih ikut-ikut audisi yang kayak di acara…