Skip to main content

Hope : Pemilu yang Sehat

Harapan Rakyat Untuk Para Wakilnya

Pada saat musim-musim pemilu barang dagangan yang paling laku adalah visi dan misi. Yang dijajakan dan di pasarkan ke setiap plosok-plosok negeri, tidak terkecuali tempat-tempat kumuh dengan penghuninya yang sangat dekil bahkan politik pun mereka “kerdil”. Para [calon]penguasa merangsak masuk demi “menjajakan” barang dagangannya tersebut. Tidak peduli panas, hujan, bau, kotor, dekil, becek, dan berlumpur tetap memaksakan masuk ke celah-celah kota yang terpinggir itu. Sepatu mahalnya rela kotor oleh lumpur. Walaupun di dalam hatinya ada rasa yang mengganjal.

“Demi barang daganganku laku, aku rela” Kata [calon]penguasa.

Saling serang argument, saling serang prestasi itu sudah lumrah demi mencari suara untuk mencengkeram kursi jabatan “penguasa”. Berita-berita HOAX bertebaran, saling menjatuhkan antar [calon]penguasa, demi apalagi kalau tidak memenangkan hati rakyat kalau dirinyalah, partainya lah yang paling benar dan yang paling hebat.
Tetapi pernah tidak para [calon]penguasa tersebut memikirkan ketimpangan [calon]rakyatnya?

“Yang man ini yang paling benar?”
“Oh yang ini, eh bukan yang itu, eh yang mana sih?..”

Sekelumit pertanyaan hinggap di benak [calon]rakyat. Dari yang bingung memilih, karena banyak media yang tidak sehat yang saling menjatuhkan para [calon]penguasa. Sehingga tertutuplah mana yang memihak ke rakyat dan mana yang memihak ke perut-perut [calon]penguasa, [calon]wakil rakyat.

Pencitraan. Menjadi senjata ampuh penakluk hati [calon]rakyat. Tebar barang dagangan (visi dan misi) secara menawan. Dan tentunya dengan cara menghalalkan setiap cara, termasuk yang dilarang agama yaitu “pembodohan publik”. [calon]rakyat disuguhkan angan-angan, ekspetasi yang melayang-layang tinggi. “Serangan fajar” membuat pola piker [calon]rakyat bahwa pemimpin itu baik-baik.

“Eh, aku kemarin diberi sembako loh sama [calon]penguasa itu. Baik banget sama [calon]rakyatnya, perhatian dengan kondisi perekonomian [calon]rakyatnya.”

Mungkin cakapan di atas ada dibeberapa mulut-mulut [calon]rakyat yang “diserang” oleh [calon]penguasa. Padahal, apa yang diangan-angan mereka jauh dari realita sebenarnya. Mereka [calon]penguasa hanya baik ada maksudnya saja. Fakta di lapangan memang begitu. Yang dulunya merelakan sepatu mahalnya kotor-kotoran jangan sakit hati kalau mereka [calon]penguasa resmi menjadi penguasa negeri, sudikah melakukan hal yang sama seperti saat mereka “berdagang” visi dan misi? Apabila mereka resmi menjadi penguasa, sudikah memberikan sembako setiap hari, ya atau minimal seminggu sekali? Tentunya anda sudah tahu jawabannya.

Sekarang sudah zamannya melek politik. Tolak semua policik-policik yang hanya merusak dan memecah belah umat. Tolak semua kabar burung yang sulit dibuktikan kredibilitasnya. Ingat, saat [calon]penguasa menjual barang dagangannya, logika akal sehat harus main! Jangan mau termakan barang dagangan yang”murahan” (selalu dijajakan pas pemilu-pemilu sebelumnya). Satu suara sangat berarti untuk negeri. Masa depan berada dicoblosan tanganmu. Jangan harap mendapatkan pemimpin yang sesuai barang yang didagangkan pas mereka berstatus “calon” kalau nalar logika akal sehat masih mempan diracuni iming-iming yang di luar logika.
Siapapun pemimpinnya, harus dan mau tidak mau harus memprioritaskan kepentingan rakyat. Yang mampu memberikan angin kehidupan kepada jiwa-jiwa yang rindu kehangatan seorang pemimpin.

Pemilu Indonesia Sehat [harapannya]

Comments

Popular posts from this blog

Motivasi Hidup: Cebong vs Kampret

Pada suatu Rimba Raya hiduplah dua ekor makhluk hidup yang berbeda tempat. Dua makhluk itu kecebong dan kampret. Kehidupan mereka berdua berbeda alam. Kecebong hidup di air. Sedangkan kampret hidup di daratan. Mereka berdua bertemu saat kampret minum air di sungai yang kebetulan si cebong sedang asyik berenang dengan kawan-kawannya. Saling tertegun di antara mereka. “Hai, siapa kau?” Tanya kampret pada kumpulan cebong. “Kau yang siapa, seenaknya minum di sungai ini” Jawaban ketus dari salah satu cebong. “Seenaknya katamu?!Heh, Aku sudah sering minum dan istirahat di sungai ini. Toh ini kan untuk dinikmati bersama” Jawab kampret dengan nada esmosi. “Tak pernah lihat wajah jelek sepertimu sebelumnya, hahaha” Cletukan salah satu cebong membuat riuh yang mengakibatkan gelap tawa rombongan mereka. Sontak kampret menjawab perkataan cebong di tengah-tengah riuh tawa rombongannya. “Apa salahnya? Apa salahnya aku haus dan minum? Perkataan kampret membungkam riuh mereka. Semenjak kejadian itu, cebong d…

Ujian Akhir Sekolah (UAS) antara hidup dan mati

Kring…kring..kriing bel sekolah berbunyi menandakan siswa dan siswi untuk masuk kelas untuk Ujian Akhir Sekolah (UAS). Desas-desusnya ujian kali ini ketat se-level penjara federal. Karena siswa dan siswinya tidak boleh melakukan trik lama, yaitu mencontek atau sitilahnya ilmu tetangga. Sangking ketatnya, kemungkinan lolos mencontek hanya 99% saja. Mengapa tidak 100%? Karena yang Esa (satu) itu Tuhan. Hal inilah yang membuat para murid-murid ketakutan, bahkan sampai ada yang keringat dingin. “Pak, aturan UASnya memang begini kah dari pak Menteri? Tanya salah satu murid pada gurunya. “Yaa, begini nak. Lha emangnya bagaimana?” Jawab Guru. “Tahun kemarin kan kaka tingkat kami gak kayak gini loh pak” siswa tersebut nampak cemberut dan simpul di bibirnya simpul mati. “Yaa, mau bagaimana lagi nak. Bapak dan Ibu gurumu ndak bisa berbuat apa-apa, hanya menjalankan amanat dari atasan” Guru tersebut menerangkan alasan UAS mereka berbeda. “ehem..ehem..guk..gruk (suara daham seorang pengawas UAS memecah…

Sarkasme : RUU Permusikan

Pada suatu masa, ada seorang musisi yang mencari rejeki dari panggung yang satu ke panggung lainnya. Musisi tersebut sudah terkenal di seantero jagad pernikahan dan acara-acara undangan yang lainnya. Bukan karena wajahnya yang tampan dan tubuhnya tinggi semampai, tetapi karena berkat suaranya yang merdu lah dia dapat manggung dan menghidupi keluarga besarnya. Pada suatu ketika dia berkumpul dengan keluarga melihat siaran berita di televisi apa yang dilihatnya meubah segalanya. Sontak saja dia dan keluarga besarnya bingung dengan berita yang tayang tersebut. “Pak, bagaimana? Apa harus Papah berganti profesi saja jadi petani atau pengusaha saja?” Tanya Istri musisi tersebut. “Mungkin Negara kita ini mau berevolusi. Sampai harus membuat RUU Permusikan. Harus ini lah, harus itulah. Yang membuat jengah itu ya masa pelaku musik harus melalui uji kesetaraan lah, uji kompetensi lah. Masa Papah harus dites segala.” Jawab musisi tersebut. “Ya kalau Bapak mau sih ikut-ikut audisi yang kayak di acara…