Skip to main content

Cara Mengatasi Mafia Bola, PSSI Bisa Apa?



Mafia bola. Pagi yang segar dan fresh (otaknya), terdapat rapat kecil-kecilan di kantor abal-abal namanya. Kebetulan sedang membahas tentang mafia bola yang sedang viral itu.
A : “Bagaimana rekan-rekan, ada solusi apa untuk mengatasi para mafia bola ini? Biar nanti saran terbaik bisa diajukan ke kepolisian.”
B : “Nah yak aku ada ide..”
A : “Ya sampaikan saja. Idenya, barangkali bisa menangkap seluruh mafia bola di negeri ini.”
B : “Begini ide saya. Mafia dengan bola kan berbeda. Kenapa gak kita pisah saja mereka berdua?”
A : “Maksudnya?”
B : “Mafia kan orangnya. Kalau bola kan olahraga yang dikuasainya.”
A : “Terus, bagaimana caranya?”
B : “Ya dipisah. Kita bubarkan olahraga sepak bolanya. Otomatis mafia yang hidup di dalamnya bakalan ngacir mencari penghidupan lain.”
A : “Out the box kali otak kau. Gak sampai otakku memikirkan itu.”
B : “Sekadar mengingatkan. Sepak bola bisa hidup sendiri tanpa PSS*. Toh banyak tuh pertandingan sepak bola di desa-desa. Tournament tingkat RT/RW saja sudah berasa seperti kelas dunia. Karena ya itu, kebersamaannya. Tidak ada dusta antara kita.”
A : “Masuk Pak Eko.”
B : “Wkwkwkw..Asiaaap”
Akhirnya mereka berdua tertawa bersama. Tidak ada dendam antara mereka. Dan usulan tersebut akan diajukan kepada Kemenpora secepatnya.

*Note : Biar pun rezeki kita sedikit. Layak kita syukuri. Karena apabila kita menanamkan rasa syukur di dalam diri kita, Insya Allah akan merasa cukup. Uang bukan segalanya. Tetapi uang mampu mengubah orang menjadi srigala berdulu domba.

Comments

Popular posts from this blog

Motivasi Hidup: Cebong vs Kampret

Pada suatu Rimba Raya hiduplah dua ekor makhluk hidup yang berbeda tempat. Dua makhluk itu kecebong dan kampret. Kehidupan mereka berdua berbeda alam. Kecebong hidup di air. Sedangkan kampret hidup di daratan. Mereka berdua bertemu saat kampret minum air di sungai yang kebetulan si cebong sedang asyik berenang dengan kawan-kawannya. Saling tertegun di antara mereka. “Hai, siapa kau?” Tanya kampret pada kumpulan cebong. “Kau yang siapa, seenaknya minum di sungai ini” Jawaban ketus dari salah satu cebong. “Seenaknya katamu?!Heh, Aku sudah sering minum dan istirahat di sungai ini. Toh ini kan untuk dinikmati bersama” Jawab kampret dengan nada esmosi. “Tak pernah lihat wajah jelek sepertimu sebelumnya, hahaha” Cletukan salah satu cebong membuat riuh yang mengakibatkan gelap tawa rombongan mereka. Sontak kampret menjawab perkataan cebong di tengah-tengah riuh tawa rombongannya. “Apa salahnya? Apa salahnya aku haus dan minum? Perkataan kampret membungkam riuh mereka. Semenjak kejadian itu, cebong d…

Ujian Akhir Sekolah (UAS) antara hidup dan mati

Kring…kring..kriing bel sekolah berbunyi menandakan siswa dan siswi untuk masuk kelas untuk Ujian Akhir Sekolah (UAS). Desas-desusnya ujian kali ini ketat se-level penjara federal. Karena siswa dan siswinya tidak boleh melakukan trik lama, yaitu mencontek atau sitilahnya ilmu tetangga. Sangking ketatnya, kemungkinan lolos mencontek hanya 99% saja. Mengapa tidak 100%? Karena yang Esa (satu) itu Tuhan. Hal inilah yang membuat para murid-murid ketakutan, bahkan sampai ada yang keringat dingin. “Pak, aturan UASnya memang begini kah dari pak Menteri? Tanya salah satu murid pada gurunya. “Yaa, begini nak. Lha emangnya bagaimana?” Jawab Guru. “Tahun kemarin kan kaka tingkat kami gak kayak gini loh pak” siswa tersebut nampak cemberut dan simpul di bibirnya simpul mati. “Yaa, mau bagaimana lagi nak. Bapak dan Ibu gurumu ndak bisa berbuat apa-apa, hanya menjalankan amanat dari atasan” Guru tersebut menerangkan alasan UAS mereka berbeda. “ehem..ehem..guk..gruk (suara daham seorang pengawas UAS memecah…

Sarkasme : RUU Permusikan

Pada suatu masa, ada seorang musisi yang mencari rejeki dari panggung yang satu ke panggung lainnya. Musisi tersebut sudah terkenal di seantero jagad pernikahan dan acara-acara undangan yang lainnya. Bukan karena wajahnya yang tampan dan tubuhnya tinggi semampai, tetapi karena berkat suaranya yang merdu lah dia dapat manggung dan menghidupi keluarga besarnya. Pada suatu ketika dia berkumpul dengan keluarga melihat siaran berita di televisi apa yang dilihatnya meubah segalanya. Sontak saja dia dan keluarga besarnya bingung dengan berita yang tayang tersebut. “Pak, bagaimana? Apa harus Papah berganti profesi saja jadi petani atau pengusaha saja?” Tanya Istri musisi tersebut. “Mungkin Negara kita ini mau berevolusi. Sampai harus membuat RUU Permusikan. Harus ini lah, harus itulah. Yang membuat jengah itu ya masa pelaku musik harus melalui uji kesetaraan lah, uji kompetensi lah. Masa Papah harus dites segala.” Jawab musisi tersebut. “Ya kalau Bapak mau sih ikut-ikut audisi yang kayak di acara…