Skip to main content

Asal-usul UU ITE versi Anekdot Negeri



Undang-Undang ITE. Pasti di benak rekan-rekan “pasal karet”. Memang tidak bisa dipungkiri, di dalam UU ITE terdapat pasal yang multitafsir, yang mempunyai kemungkinan salah tafsir dan tentunya apabila hal itu terjadi, keadilan hanya sekadar impian (bagi yang lengah dan yang tidak punya kuasa).

Sudah bukan rahasia lagi kalau hukum di negeri sulap ini bisa menyulap hukum menjadi bahan makanan elite politik yang memiliki watak-watak dictator sepeninggalan orba (red: orde baru). Menghalalkan segala cara demi menutupi kepentingan pribadi, dengan embel-embel “merakyat, dan berkeadilan”.

Husnuzon. Sikap yang tepat menyikapi UU ITE yang dibuat oleh para wakil rakyat yang selalu merakyat tentunya. Tujuan wakil rakyat sudah bagus membuat UU ITE tersebut, agar tidak ada lagi netizen-netizen yang “barbar” di medsos-medsos. Tetapi, sebaiknya para wakil rakyat juga memperhatikan UU ITE tersebut, karena itu tadi banyaknya pasal karet yang membuat image “dictator” di kalangan rakyat negeri tercinta ini. Harus ada revisi dan pengkajian ulang lagi mengenai UU ITE agar terciptanya transparansi keadilan. Maksudnya, keadilan yang jelas dan gamblang arah keadilannya, mengarah ke keadilan untuk semua kalangan.

Tercatat di berbagai sumber, negeri ini menduduki posisi teratas pengguna media elektroniknya dengan total ada 130 juta lebih pengguna medsos aktif di negeri ini. Baik aktif di media facebook, twitter, instagram, WhatsApp, dan masih banyak lagi. Tetapi, tingkat ke “barbaran” netizen Indonesia paling top juga, wow. Semua yang berbau rasis, SARA tidak segan mereka lontarkan di media publik yang notaben dilihat seluruh manusia di alam dunia ini. Hal ini lah yang membuat image netizen negeri ini dicap ‘buruk’ oleh netizen luar negeri.

Bertolak dari data di atas terbentuklah “Undang-Undang ITE (Informasi, dan Transaksi Elektronik)” yang menekan tingkat ke “barbaran” penduduk alam dunia maya negeri ini.

Comments

Popular posts from this blog

Motivasi Hidup: Cebong vs Kampret

Pada suatu Rimba Raya hiduplah dua ekor makhluk hidup yang berbeda tempat. Dua makhluk itu kecebong dan kampret. Kehidupan mereka berdua berbeda alam. Kecebong hidup di air. Sedangkan kampret hidup di daratan. Mereka berdua bertemu saat kampret minum air di sungai yang kebetulan si cebong sedang asyik berenang dengan kawan-kawannya. Saling tertegun di antara mereka. “Hai, siapa kau?” Tanya kampret pada kumpulan cebong. “Kau yang siapa, seenaknya minum di sungai ini” Jawaban ketus dari salah satu cebong. “Seenaknya katamu?!Heh, Aku sudah sering minum dan istirahat di sungai ini. Toh ini kan untuk dinikmati bersama” Jawab kampret dengan nada esmosi. “Tak pernah lihat wajah jelek sepertimu sebelumnya, hahaha” Cletukan salah satu cebong membuat riuh yang mengakibatkan gelap tawa rombongan mereka. Sontak kampret menjawab perkataan cebong di tengah-tengah riuh tawa rombongannya. “Apa salahnya? Apa salahnya aku haus dan minum? Perkataan kampret membungkam riuh mereka. Semenjak kejadian itu, cebong d…

Ujian Akhir Sekolah (UAS) antara hidup dan mati

Kring…kring..kriing bel sekolah berbunyi menandakan siswa dan siswi untuk masuk kelas untuk Ujian Akhir Sekolah (UAS). Desas-desusnya ujian kali ini ketat se-level penjara federal. Karena siswa dan siswinya tidak boleh melakukan trik lama, yaitu mencontek atau sitilahnya ilmu tetangga. Sangking ketatnya, kemungkinan lolos mencontek hanya 99% saja. Mengapa tidak 100%? Karena yang Esa (satu) itu Tuhan. Hal inilah yang membuat para murid-murid ketakutan, bahkan sampai ada yang keringat dingin. “Pak, aturan UASnya memang begini kah dari pak Menteri? Tanya salah satu murid pada gurunya. “Yaa, begini nak. Lha emangnya bagaimana?” Jawab Guru. “Tahun kemarin kan kaka tingkat kami gak kayak gini loh pak” siswa tersebut nampak cemberut dan simpul di bibirnya simpul mati. “Yaa, mau bagaimana lagi nak. Bapak dan Ibu gurumu ndak bisa berbuat apa-apa, hanya menjalankan amanat dari atasan” Guru tersebut menerangkan alasan UAS mereka berbeda. “ehem..ehem..guk..gruk (suara daham seorang pengawas UAS memecah…

Sarkasme : RUU Permusikan

Pada suatu masa, ada seorang musisi yang mencari rejeki dari panggung yang satu ke panggung lainnya. Musisi tersebut sudah terkenal di seantero jagad pernikahan dan acara-acara undangan yang lainnya. Bukan karena wajahnya yang tampan dan tubuhnya tinggi semampai, tetapi karena berkat suaranya yang merdu lah dia dapat manggung dan menghidupi keluarga besarnya. Pada suatu ketika dia berkumpul dengan keluarga melihat siaran berita di televisi apa yang dilihatnya meubah segalanya. Sontak saja dia dan keluarga besarnya bingung dengan berita yang tayang tersebut. “Pak, bagaimana? Apa harus Papah berganti profesi saja jadi petani atau pengusaha saja?” Tanya Istri musisi tersebut. “Mungkin Negara kita ini mau berevolusi. Sampai harus membuat RUU Permusikan. Harus ini lah, harus itulah. Yang membuat jengah itu ya masa pelaku musik harus melalui uji kesetaraan lah, uji kompetensi lah. Masa Papah harus dites segala.” Jawab musisi tersebut. “Ya kalau Bapak mau sih ikut-ikut audisi yang kayak di acara…