Skip to main content

Anekdot : Motivasi Pembentukan Komnas Perlindungan Hewan, pemerkosaan hewan



Indonesia perlu Komnas Perlindungan Hewan. Ketidakadilan terhadap hak asasi nampaknya tidak hanya terjadi di dunia permanusiaan tetapi sekarang sudah meranjah ke dunia perhewanan. Bukan hewan yang mengambil hak-nya si manusia, tetapi si manusia yang mengambil hak-nya si hewan. Aneh dan miris memang apabila kita di hadapkan dengan realita tersebut.
Tuhan sudah menganugerahkan akal kepada manusia sebagai pembeda di antara makhluk-makhluk lainnya, agar digunakan sebagaimana mestinya. Pertanyaannya sekarang adalah apakah oknum manusia yang memperkosa dan mengambil hak makhluk lain yang notaben tidak mempunyai akal (hewan) tersebut dapat dikatakan ‘ada’ otak dan seperangkat akalnya di dalam kepalanya? Silahkan jawab di kolom komentar.

Baru-baru ini ada berita pemerkosaan hewan di daerah Panggung Rejo, Sukoharjo, Pringsewu yang membuat warga net tecengang karena ulah oknum manusia yang dengan sangat tidak bertanggung jawab memperkosa 1 ekor kambing, dan 1 ekor sapi. Mungkin sudah saking ‘kebelet’ jadi tidak bisa ditahan-tahan lagi birahinya. Akhirnya terjadilah tindakan asusila tersebut. Kasus tersebut satu di antara banyak kasus yang terjadi di negeri yang indah ini.

Bertolak dari semua perbuatan yang sudah melampaui batas terhadap dunia perhewanan, perlu dibentuk suatu lembaga perlindungan hewan. Agar korban-korban pemerkosaan yang dilakukan oleh oknum manusia mendapat psikoterapi untuk mengantisipasi guncangan kejiwaan seusai kejadian. Kalau perlu ada menteri perhewanan juga.

Pasal-pasal mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) sudah banyak tercantum di kitab-kitab Undang-Undang, tetapi mengapa Hak Asasi Hewan (HAH) tidak ada. Seperti hak untuk hidup dan berkembang biak dengan sejenisnya (bukan dari sebangsa manusia). Kalau di KUHP (Kitab Undang-undang Hukum Pidana) sudah ada tercantum sanksi menyiksa hewan, itu pun sedikit saja pembahasan mengenai itu. Kalau pun ada di kitab Undang-Undang lain bisa kalian cantumkan di kolom komentar ya, biar lebih eksis dan bisa dilihat oleh semua manusia di muka bumi tentang pentingnya menghormati setiap hak asasi semua makhluk hidup.

Comments

Popular posts from this blog

Motivasi Hidup: Cebong vs Kampret

Pada suatu Rimba Raya hiduplah dua ekor makhluk hidup yang berbeda tempat. Dua makhluk itu kecebong dan kampret. Kehidupan mereka berdua berbeda alam. Kecebong hidup di air. Sedangkan kampret hidup di daratan. Mereka berdua bertemu saat kampret minum air di sungai yang kebetulan si cebong sedang asyik berenang dengan kawan-kawannya. Saling tertegun di antara mereka. “Hai, siapa kau?” Tanya kampret pada kumpulan cebong. “Kau yang siapa, seenaknya minum di sungai ini” Jawaban ketus dari salah satu cebong. “Seenaknya katamu?!Heh, Aku sudah sering minum dan istirahat di sungai ini. Toh ini kan untuk dinikmati bersama” Jawab kampret dengan nada esmosi. “Tak pernah lihat wajah jelek sepertimu sebelumnya, hahaha” Cletukan salah satu cebong membuat riuh yang mengakibatkan gelap tawa rombongan mereka. Sontak kampret menjawab perkataan cebong di tengah-tengah riuh tawa rombongannya. “Apa salahnya? Apa salahnya aku haus dan minum? Perkataan kampret membungkam riuh mereka. Semenjak kejadian itu, cebong d…

Ujian Akhir Sekolah (UAS) antara hidup dan mati

Kring…kring..kriing bel sekolah berbunyi menandakan siswa dan siswi untuk masuk kelas untuk Ujian Akhir Sekolah (UAS). Desas-desusnya ujian kali ini ketat se-level penjara federal. Karena siswa dan siswinya tidak boleh melakukan trik lama, yaitu mencontek atau sitilahnya ilmu tetangga. Sangking ketatnya, kemungkinan lolos mencontek hanya 99% saja. Mengapa tidak 100%? Karena yang Esa (satu) itu Tuhan. Hal inilah yang membuat para murid-murid ketakutan, bahkan sampai ada yang keringat dingin. “Pak, aturan UASnya memang begini kah dari pak Menteri? Tanya salah satu murid pada gurunya. “Yaa, begini nak. Lha emangnya bagaimana?” Jawab Guru. “Tahun kemarin kan kaka tingkat kami gak kayak gini loh pak” siswa tersebut nampak cemberut dan simpul di bibirnya simpul mati. “Yaa, mau bagaimana lagi nak. Bapak dan Ibu gurumu ndak bisa berbuat apa-apa, hanya menjalankan amanat dari atasan” Guru tersebut menerangkan alasan UAS mereka berbeda. “ehem..ehem..guk..gruk (suara daham seorang pengawas UAS memecah…

Sarkasme : RUU Permusikan

Pada suatu masa, ada seorang musisi yang mencari rejeki dari panggung yang satu ke panggung lainnya. Musisi tersebut sudah terkenal di seantero jagad pernikahan dan acara-acara undangan yang lainnya. Bukan karena wajahnya yang tampan dan tubuhnya tinggi semampai, tetapi karena berkat suaranya yang merdu lah dia dapat manggung dan menghidupi keluarga besarnya. Pada suatu ketika dia berkumpul dengan keluarga melihat siaran berita di televisi apa yang dilihatnya meubah segalanya. Sontak saja dia dan keluarga besarnya bingung dengan berita yang tayang tersebut. “Pak, bagaimana? Apa harus Papah berganti profesi saja jadi petani atau pengusaha saja?” Tanya Istri musisi tersebut. “Mungkin Negara kita ini mau berevolusi. Sampai harus membuat RUU Permusikan. Harus ini lah, harus itulah. Yang membuat jengah itu ya masa pelaku musik harus melalui uji kesetaraan lah, uji kompetensi lah. Masa Papah harus dites segala.” Jawab musisi tersebut. “Ya kalau Bapak mau sih ikut-ikut audisi yang kayak di acara…