Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2019

Anekdot : Motivasi Pembentukan Komnas Perlindungan Hewan, pemerkosaan hewan

Indonesia perlu Komnas Perlindungan Hewan. Ketidakadilan terhadap hak asasi nampaknya tidak hanya terjadi di dunia permanusiaan tetapi sekarang sudah meranjah ke dunia perhewanan. Bukan hewan yang mengambil hak-nya si manusia, tetapi si manusia yang mengambil hak-nya si hewan. Aneh dan miris memang apabila kita di hadapkan dengan realita tersebut. Tuhan sudah menganugerahkan akal kepada manusia sebagai pembeda di antara makhluk-makhluk lainnya, agar digunakan sebagaimana mestinya. Pertanyaannya sekarang adalah apakah oknum manusia yang memperkosa dan mengambil hak makhluk lain yang notaben tidak mempunyai akal (hewan) tersebut dapat dikatakan ‘ada’ otak dan seperangkat akalnya di dalam kepalanya? Silahkan jawab di kolom komentar.
Baru-baru ini ada berita pemerkosaan hewan di daerah Panggung Rejo, Sukoharjo, Pringsewu yang membuat warga net tecengang karena ulah oknum manusia yang dengan sangat tidak bertanggung jawab memperkosa 1 ekor kambing, dan 1 ekor sapi. Mungkin sudah saking ‘kebe…

Anekdot : Negeri Sampah Part. 1, Bahasa Indonesia

Anak-anak memiliki daya ingat yang sangat tajam. Karena itulah sering kali disebut dengan generasi emas. Pernah ada pepatah kuno yang berbunyi “belajar di waktu kecil, bagaikan mengukir di atas batu, belajar di waktu besar bagaikan mengukir di atas air.” Jadi apapun yang kita berikan atau kita sampaikan akan mudah diserap dalam imajinasinya. Maka dari itu berikan dan sampaikan hal-hal yang bermanfaat untuk masa depannya, karena akan mudah diingatnya.
Di suatu sekolahan TK (Taman Kanak-kanak) Ibu guru sedang menjelaskan mengenai cara menjaga lingkungan sekitar dari berbagai sampah. Saat Bu guru sedang menjelaskan mengenai cara menjaga lingkungan dari sampah ada salah satu murid yang bertanya.
Ucrit : “Bu, sampah itu apa sih sebenarnya? Aku ko masih bingun?” Bu Guru : “Sampah itu merupakan segala benda yang sudah tidak terpakai dan tidak mempunyai nilai guna, Ucrit.” Ucrit : “Ooo gitu ya Bu.” Bu Guru : “Iya, Ucrit. Maka dari itu, kita harus senantiasa menjaga lingkungan dengan tidak membuang…

Cara Mengatasi Mafia Bola, PSSI Bisa Apa?

Mafia bola. Pagi yang segar dan fresh (otaknya), terdapat rapat kecil-kecilan di kantor abal-abal namanya. Kebetulan sedang membahas tentang mafia bola yang sedang viral itu. A : “Bagaimana rekan-rekan, ada solusi apa untuk mengatasi para mafia bola ini? Biar nanti saran terbaik bisa diajukan ke kepolisian.” B : “Nah yak aku ada ide..” A : “Ya sampaikan saja. Idenya, barangkali bisa menangkap seluruh mafia bola di negeri ini.” B : “Begini ide saya. Mafia dengan bola kan berbeda. Kenapa gak kita pisah saja mereka berdua?” A : “Maksudnya?” B : “Mafia kan orangnya. Kalau bola kan olahraga yang dikuasainya.” A : “Terus, bagaimana caranya?” B : “Ya dipisah. Kita bubarkan olahraga sepak bolanya. Otomatis mafia yang hidup di dalamnya bakalan ngacir mencari penghidupan lain.” A : “Out the box kali otak kau. Gak sampai otakku memikirkan itu.” B : “Sekadar mengingatkan. Sepak bola bisa hidup sendiri tanpa PSS*. Toh banyak tuh pertandingan sepak bola di desa-desa. Tournament tingkat RT/RW saja sudah beras…

Polemik BPJS Kesehatan dan kartu sakti program pemerintah

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan merupakan suatu badan asuransi yang digalakkan pemerintah untuk menampung semua pasien terutama untuk pasien yang berekonomi kelas menengah ke bawah yang menggunakan “tiket” Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang tentunya iuran kepesertaannya dibayar oleh pemerintah yang dialokasikan dalam APBN. Ya, dualism kartu jaminan kesehatan untuk rakyat miskin ini menuai banyak kritikan, karena banyak terjadi diskriminasi antara dia yang bayar tunai dengan dia yang dibayar pemerintah. Sejak awal beroperasinya BPJS pada 1 Januari 2014 sampai sekarang, pasien yang berekonomi menengah ke bawah (tidak mampu secara finansial) ‘kurang’ diprioritaskan perawatannya atau bisa dikatakan banyak terjadi perlakuan yang diskriminatif terhadap golongan berfinansial rendah.
Banyaknya pasien kelas finansial rendah (miskin) yang terlantar di rumah sakit-rumah sakit menambah catatan buruk program asuransi dari pemerintahan yang berbau ‘gratisan’ tersebut. Keluhan demi …

Asal-usul UU ITE versi Anekdot Negeri

Undang-Undang ITE. Pasti di benak rekan-rekan “pasal karet”. Memang tidak bisa dipungkiri, di dalam UU ITE terdapat pasal yang multitafsir, yang mempunyai kemungkinan salah tafsir dan tentunya apabila hal itu terjadi, keadilan hanya sekadar impian (bagi yang lengah dan yang tidak punya kuasa).
Sudah bukan rahasia lagi kalau hukum di negeri sulap ini bisa menyulap hukum menjadi bahan makanan elite politik yang memiliki watak-watak dictator sepeninggalan orba (red: orde baru). Menghalalkan segala cara demi menutupi kepentingan pribadi, dengan embel-embel “merakyat, dan berkeadilan”.
Husnuzon. Sikap yang tepat menyikapi UU ITE yang dibuat oleh para wakil rakyat yang selalu merakyat tentunya. Tujuan wakil rakyat sudah bagus membuat UU ITE tersebut, agar tidak ada lagi netizen-netizen yang “barbar” di medsos-medsos. Tetapi, sebaiknya para wakil rakyat juga memperhatikan UU ITE tersebut, karena itu tadi banyaknya pasal karet yang membuat image “dictator” di kalangan rakyat negeri tercinta ini…

Jabatan : Budaya Ikut-ikutan, Uang Panas Rakyat

Siang itu para Kepala Desa rapat disalah satu rumah dinas pejabat daerah setempat. Rapat itu kebetulan membahas mengenai Dana Desa yang sedang hangat diperbincangkan.
A : “Mengenai Dana Desa yang sekarang lagi hangat-hangatnya diperbincangkan khalayak ramai, bagaimana pendapat rekan-rekan sekalian? B : “Kalau itu sih menurut aku, sah-sah saja diberikan kepada kita. Lumayan loh jumlah nominalnya.” C : “Iya sih lumayan. Ya kalau buat ternak lele ya masih sisal ah.” B : “Ha..ha..ha..Dana Desa kok buat ternak lele ada-ada saja. Mending buat beli mobil sprot. Gak kebayang kalau sudah cair, langsung aku belikan mobil idaman itu. Bosan lah tiap hari pakai mobil operasional, platnya merah.” A : “Ehem, ko pembahasannya kayaknya menyimpang dari topik.” B : “Menyimpang bagaimana? Dana Desa kan milik kita para kepala-kepala desa. Toh masyarakat kan gak tahu.” C : “Iya itu betul. Itung-itung balik modal pas pilkada tahun lalu. Gengsi dong masa pejabat kayak kita-kita ini terlihat miskin di hadapan warga-…

Cara Investasi ala Calon Wakil Rakyat, Untung Banyak : Sinisme

Investasi ala [Calon] Pemimpin Rakyat Siang itu tampak sekumpulan orang berkampanye menggunakan atribut-atribut partai politiknya. Dengan mengendarai sepeda motor dengan kenalpot racing yang menggelegar dan memekakkan telinga membuat siapapun yang mendengar langsung sembuh dari budeknya. Rombongan tersebut rata-rata masih remaja dan bisa dibilang masih seumuran SMA (baca: kids jaman now). Karena dilihat dari caranya berorasi dan berkampanye dengan sangat menggebu-gebu memperlihatkan djiwa muda (baca: semangat darah muda). Entah apa yang mendasari mereka bisa se-semangat itu.
Dilain hal, paslon dan tim suksenya mempunyai agenda selain bleyer-bleyer (menyaringkan suara kenalpot dengan sengaja) yaitu “blusukan”. Istilah tersebut memang sedang viral baru-baru ini. Blusukan ke kampung-kampung/desa-desa merupakan agenda utama untuk menarik simpatisan agar memenangkannya dipemilu mendatang. Diblusukannya itu dia mengenalkan cara “investasi”.
“(sambil menyodorkan kertas amplop berwarna putih) P…

Hope : Pemilu yang Sehat

Harapan Rakyat Untuk Para Wakilnya Pada saat musim-musim pemilu barang dagangan yang paling laku adalah visi dan misi. Yang dijajakan dan di pasarkan ke setiap plosok-plosok negeri, tidak terkecuali tempat-tempat kumuh dengan penghuninya yang sangat dekil bahkan politik pun mereka “kerdil”. Para [calon]penguasa merangsak masuk demi “menjajakan” barang dagangannya tersebut. Tidak peduli panas, hujan, bau, kotor, dekil, becek, dan berlumpur tetap memaksakan masuk ke celah-celah kota yang terpinggir itu. Sepatu mahalnya rela kotor oleh lumpur. Walaupun di dalam hatinya ada rasa yang mengganjal.
“Demi barang daganganku laku, aku rela” Kata [calon]penguasa.
Saling serang argument, saling serang prestasi itu sudah lumrah demi mencari suara untuk mencengkeram kursi jabatan “penguasa”. Berita-berita HOAX bertebaran, saling menjatuhkan antar [calon]penguasa, demi apalagi kalau tidak memenangkan hati rakyat kalau dirinyalah, partainya lah yang paling benar dan yang paling hebat. Tetapi pernah tida…

Sarkasme : Negara Paling Berani di Dunia

Pemulung Cerdas
Pada saat terik panas matahari si Jradul dan Bradul masih asik bekerja memilah sampah-sampah di TPS (Tempat Pembuangan Sampah) di pinggir kota metropolitan. Tumpukan sampah bagi mereka berdua adalah berkah. Karena mata pencaharian utama mereka itu, jadi mau tidak mau harus berkecimpung dengan dunia persampahan.
Walaupun profesi mereka seorang pemulung bukan berarti halangan untuk terus belajar. Jangan salah, di rumah mereka banyak tumpukan-tumpukan buku bekas yang mereka ambil dari banyak TPS. Dari membaca buku-buku tersebut mereka belajar secara autodidak. Tak jarang mereka berdua sering melakukan diskusi-diskusi kecil sebagai sarana bertukar ilmu dan merembukkan masalah.
Pernah suatu ketika mereka mendapati koran yang isinya tentang korupsi berjamaah anggota DPRD. “Jra, lihat nih berita.” “Apaan, Bra” “Ini ni anggota DPRD korupsi.” “Halah sudah biasa itu mah. Tiap hari itu-itu aja beritanya.” “Ini lain Jra. Korupsinya berjamaan. Lihat nih (sambil menjulungkan koran) pakaiaa…

Sinisme : Sudahkah Anda Bersyukur Hari Ini?

Pada suatu hari di suatu perkampungan kumuh. Hiduplah satu kepala keluarga pemulung yang beranggotan empat orang. Sebut saja namanya Sabar. Seorang pemulung yang hidup dan tinggal di pinggiran kota metropolitan. Sabar sendiri mempunyai satu orang Istri dan dua orang anak. Sebut saja ke dua anaknya Ikhal dan Juju. Ke dua anak Sabar berhenti bersekolah sejak SD, karena terkendala biaya. Tak jarang, ke dua anaknya tersebut membantu Sabar untuk memulung botol-botol bekas. Tak jarang mereka juga mengais sisa-sisa makanan yang ada untuk mengganjal perut mereka saat lelah menyusuri tiap-tiap gang di perkotaan. Sedangkan Istrinya berprofesi sebagai buruh cuci. Berangkat pagi, dan pulang sore hari merupakan rutinitas keluarga Sabar. Kumpul keluarga hanya pas malam hari saja untuk mengisahkan hal-hal yang mereka alami pada saat bekeja. Seperti namanya, Sabar merupakan tipe orang yang Sabar dalam segala hal yang terjadi di dalam hidupnya. Tetapi, yang paling Sabar tak mampu adalah saat kedua anakn…

Sarkasme : RUU Permusikan

Pada suatu masa, ada seorang musisi yang mencari rejeki dari panggung yang satu ke panggung lainnya. Musisi tersebut sudah terkenal di seantero jagad pernikahan dan acara-acara undangan yang lainnya. Bukan karena wajahnya yang tampan dan tubuhnya tinggi semampai, tetapi karena berkat suaranya yang merdu lah dia dapat manggung dan menghidupi keluarga besarnya. Pada suatu ketika dia berkumpul dengan keluarga melihat siaran berita di televisi apa yang dilihatnya meubah segalanya. Sontak saja dia dan keluarga besarnya bingung dengan berita yang tayang tersebut. “Pak, bagaimana? Apa harus Papah berganti profesi saja jadi petani atau pengusaha saja?” Tanya Istri musisi tersebut. “Mungkin Negara kita ini mau berevolusi. Sampai harus membuat RUU Permusikan. Harus ini lah, harus itulah. Yang membuat jengah itu ya masa pelaku musik harus melalui uji kesetaraan lah, uji kompetensi lah. Masa Papah harus dites segala.” Jawab musisi tersebut. “Ya kalau Bapak mau sih ikut-ikut audisi yang kayak di acara…

Ujian Akhir Sekolah (UAS) antara hidup dan mati

Kring…kring..kriing bel sekolah berbunyi menandakan siswa dan siswi untuk masuk kelas untuk Ujian Akhir Sekolah (UAS). Desas-desusnya ujian kali ini ketat se-level penjara federal. Karena siswa dan siswinya tidak boleh melakukan trik lama, yaitu mencontek atau sitilahnya ilmu tetangga. Sangking ketatnya, kemungkinan lolos mencontek hanya 99% saja. Mengapa tidak 100%? Karena yang Esa (satu) itu Tuhan. Hal inilah yang membuat para murid-murid ketakutan, bahkan sampai ada yang keringat dingin. “Pak, aturan UASnya memang begini kah dari pak Menteri? Tanya salah satu murid pada gurunya. “Yaa, begini nak. Lha emangnya bagaimana?” Jawab Guru. “Tahun kemarin kan kaka tingkat kami gak kayak gini loh pak” siswa tersebut nampak cemberut dan simpul di bibirnya simpul mati. “Yaa, mau bagaimana lagi nak. Bapak dan Ibu gurumu ndak bisa berbuat apa-apa, hanya menjalankan amanat dari atasan” Guru tersebut menerangkan alasan UAS mereka berbeda. “ehem..ehem..guk..gruk (suara daham seorang pengawas UAS memecah…

Motivasi Hidup: Cebong vs Kampret

Pada suatu Rimba Raya hiduplah dua ekor makhluk hidup yang berbeda tempat. Dua makhluk itu kecebong dan kampret. Kehidupan mereka berdua berbeda alam. Kecebong hidup di air. Sedangkan kampret hidup di daratan. Mereka berdua bertemu saat kampret minum air di sungai yang kebetulan si cebong sedang asyik berenang dengan kawan-kawannya. Saling tertegun di antara mereka. “Hai, siapa kau?” Tanya kampret pada kumpulan cebong. “Kau yang siapa, seenaknya minum di sungai ini” Jawaban ketus dari salah satu cebong. “Seenaknya katamu?!Heh, Aku sudah sering minum dan istirahat di sungai ini. Toh ini kan untuk dinikmati bersama” Jawab kampret dengan nada esmosi. “Tak pernah lihat wajah jelek sepertimu sebelumnya, hahaha” Cletukan salah satu cebong membuat riuh yang mengakibatkan gelap tawa rombongan mereka. Sontak kampret menjawab perkataan cebong di tengah-tengah riuh tawa rombongannya. “Apa salahnya? Apa salahnya aku haus dan minum? Perkataan kampret membungkam riuh mereka. Semenjak kejadian itu, cebong d…