Skip to main content

Posts

Hakikat Teks Anekdot

Apa yang ada dipikiran kalian mengenai kalimat kritik? Tentu yang ada dipikiran kalian adalah kalimat yang tegas, keras, terus terang, dan memiliki niat menjatuhkan. Dalam hal ini tidak terkecuali saat presentasi di kelas-kelas, melainkan kritik sering sekali datang dan muncul di berbagai tingkatan masyarakat segala tingkatan. Misalnya, di lingkungan keluarga saat nilai rekan-rekan anjlok, pada saat itulah bapak atau ibu selaku orangtua kalian pasti akan memberi kritik,
"Sudah dibilangin kan, jangan main hp terus. Nilaimu anjlokkan" "Lain kali lebih teliti dalam menjawab ujiannya" "Bagaimana mau dapat rangking kalau keseharianmu hanya main game terus. Otakmu jadi kosongkan"
Kritik bisa dalam bentuk teks anekdot. Nah pasti tidak ada yang tahu atau mungkin hanya sekadar dengar saja mengenai teks yang keren ini. Teks anekdot adalah cerita singkat yang di dalamnya mengandung unsur lucu dan mempunyai maksud untuk melakukan kritikan. Teks anekdot biasanya bert…
Recent posts

Dua Mata Pisau RKUHP dan RUU KPK

RKUHP dan RUU KPK. Dua mata pisau yang berbahaya bagi pemerintah dan rakyat. Bagaimana tidak, mereka berdua muncul tiba-tiba dan sekejap mata langsung bisa membuat gaduh jagad Indonesia. Layaknya sebuah candi yang dibangun dalam semalam, rancangan undang-undang tersebut ramai diperbincangkan. Karena diduga dan usut punya usut kedua undang-undang tersebut tidak mencerminkan keadilan dan semangat pemberantasan korupsi yang sudah membudaya di kalangan elite politik kita.
Sebenarnya masih ada lagi rancangan undang-undang yang bermasalah. Seperti, RUU Pertanahan, RUU Pertanian, dan rancangan undang-undang kilat lainnya. Sebagai bangsa berdaulat, tentu penegakan keadilan pasti yang nomor satu. Indonesia adalah salah satu negara yang adil dalam memperlakukan penjahat. Maling ayam. maling sendal, maling buah, mengambil kayu digebuk sampai hancur dan di penjara 5 tahun (berdasarkan Pasal 362 KUHP). Itu pun karena desakan ekonomi yang memaksa. Sedangkan, maling uang rakyat atau korupsi hanya d…

Jadi Menteri? Siap Presiden!

Dunia perpolitikan negeri ini selalu menampilkan hal-hal yang mengejutkan (bahasa gaulnya speechless). Teman bisa menjadi lawan. Dan lawan bisa menjadi teman. Orang awam tidak bisa menebak dengan nada-nada gamblang seperti,
"itu loh bakal jadi rival politik seumur hidup.." "ambisius sekali dia sampai menebar berita hoax dan ujaran kebencian pula.." "mereka gak bakal rekonsiliasi deh..." "hidup oposisi..!!" "hidup demokrasi//!" "hidup kursi menteri.."
ya, hanya Allah dan mereka yang berdasi lah yang tahu. Skenario politik yang disusupi isu-isu agama, paham komunis, dan paham-paham ekstrim lainnya yang mampu membuat rekayasa panggung perpolitikan menjadi menarik rekan-rekan sutradara perfilman. Karena tepat sekali apabila diangkat di layar lebar (red:bioskop). Tentu dengan judul "Tak Rekonsiliasi, Tak dapat Kursi". Hahaha, pasti bisa dipastikan akan membludak penontonnya. Sebab, yang duduk di kursi-kursi bioskop deng…

Media dan Etika | Terkait Meninggalnya Ani Yudhoyono

Sebelum membaca ini sebaiknya membaca motivasi perdamaian, agar asupan energi otak bertambah. Pada dasarnya media terbagi menjadi 2 (dua) kategori. Yang pertama, media sebagai sumber informasi. Dan yang kedua media sebagai wadah hiburan. Kedua-duanya jangan disamaratakan loh ya, karena sudah berbeda konteksnya. Namun, lucunya sekarang ini media punya kemampuan kamuflase layaknya bunglon. Tidak bisa membedakan waktu yang tepat untuk memberikan informasi dan hiburan, dua-duanya digabung bak gado-gado. Yang bingung tentu pemirsah di rumah.
Pernyataan ini mendasar karena sebagai rakyat sudah jengah dengan banyaknya pemberitaan yang itu-itu saja dan yang terbaru sudah tidak ada etikanya. Tidak perlu disebutkan nama media mana yang demikian tentu kalian sudah tahu, yang pastinya media pemberitaan. Keresahan ini muncul karena semakin hari apabila diperhatikan dengan saksama dan dalam tempo yang lama media pemberitaan sudah tidak terkendali. Ya memang Undang-Undang Indonesia memberikan kebeb…

Kasus Ratna Sarumpaet, JPU Menuntut 6 Tahun Penjara | PerspektifRakyat

Lucunya negeri ini bertambah dengan adanya kasus-kasus hoax (red: hoak). Yang lagi viral tahun ini adalah kasus penganiayaan tokoh pejuang HAM, pejuang perempuan, wonder womannya Indonesia (kata pembelanya loh ya). Ratna Sarumpaet. Seketika menyita banyak menyita awak media perihal muka lebam yang di uplodnya di jejaring sosial twitter dan sudah banyak dibagikan oleh banyak orang. Tangis dan hujatan (untuk si penganiaya) datang dari kerabat-kerabat dekatnya dari kelas politik dan aktivis. Apalagi saat berita itu booming, timingnya pas dengan pemilu 2019. Ya kesempatan dalam kesempitan untuk kerabat-kerabat dan rekan-rekan beliau untuk menggoreng dan mendramatisir kejadian.
Team oposisi. Team pertama yang merespon kasus Ratna Sarumpaet. Dengan emosi membara dan tanpa check and recheck terlebih dahulu mereka mengutuk perbuatan tersebut. terus bagaimana dengan kubu petahana? Adem ayem dan tetap stay cool saja. Saat diwawancara mereka menjawab “yaa serahkan saja kasusnya pada Kepolisian”…

Kejutan Pasca Aksi 22 Mei 2019, Emak-emak Penjual Senpi | SehatkanAkalmu

Sekarang lagi zamannya emak-emak jual senpi daripada ngocok arisan. Pasca aksi 22 Meibanyak memunculkan kejadian-kejadian menarik. Salah satunya tertangkapnya emak-emak penjual senpi jenis revolver Taurus dengan harga Rp. 50 jt. Emak-emak tersebut disenyalir mempunyai peran penyuplai senpi untuk membunuh 4 tokoh Nasional dan pimpinan lembaga survey. Ia ditangkap tidak sendirian, bersama kelima rekannya yang memiliki tugas berbeda tentunya. Mereka dibagi menjadi beberapa tugas, ada yang menjadi eksekutor dan operator. Mungkin fatwa MUI benar mengharamkan game PUBG. Dampaknya yaa dapat kita saksikan pemirsa. Entah mungkin emak-emak tersebut kecanduan game apa yang pasti jenis gamenya tembak-tembakan, bukan Farm Frenzy. Coba bayangkan kalau emak-emak tersebut naik motor reting kanan beloknya kekiri terus lo protes. Apa gak didor pala kau. Ya sedikit demi sedikit hama Negeri ini mulai tertangkap Polisi. Terimakasih untuk Polri yang sudah berjihad membela ibu pertiwi ini mati-matian. You are…

Motivasi Perdamaian Indonesia Untuk People Power 22 Mei 2019

Setelah pemilu 2019 usai banyak hal yang terjadi di Indonesia. Salah satunya aksi people power yang pernah terjadi tahun ’98 terulang kembali. Cuman bedanya massa tidak menggeruduk kantor DPR. Kemudian perbedaan lainnya adalah massa rata-rata berkopyah, bersorban, dan memakai baju koko/gamis. Sudahlah, lupakan politik identitas yang mengatas namakan SARA (Suku Agama Ras dan Antar golongan). Pengumuman pemenang pesta demokrasi (Pilpres dan Pileg) sudah berlalu. Sekarang tinggal menata hidup untuk kehidupan yang akan datang. Tidak terimanya hasil rekapitulasi KPU biarlah elite-elite politik yang bersengketa, jangan kita yang terus-menerus disengketakan. Cebong dan kampret sudah berakhir, sekarang semua sudah lebur jadi NKRI. Demo yang awal mula dengan jargon damai seketika berubah jadi rusuh merupakan bentuk rekayasa politik para elite-elite politik mengadu domba damainya demokrasi kerakyatan yang ada di Indonesia dengan membawa isu-isu SARA mereka memecah belah bangsa untuk meraih nafsu…